Rabu, 17 Desember 2014

PHOTO ESSAY DAN PHOTO STORY

MENGUAK PERBEDAAN ANTARA PHOTO ESSAY DAN PHOTO STORY

Banyak orang bisa menulis, tapi sedikit yang bisa mengarang, banyak orang yang bisa motret, tapi jarang yang bisa membuat foto yang bercerita. Fotografi adalah salah satu media untuk bercerita yang sangat baik. Seringkali, fotografi yang baik dapat menggugah perasaan dibandingkan dengan tulisan semata. Mampu membuat foto yang bercerita merupakan suatu hal yang baik untuk mendapatkan pekerjaan di bidang fotografi terutama fotojurnalisme.
Dalam mengunakan fotografi untuk bercerita, biasanya fotografer mengunakan beberapa foto. Karena jarang satu foto dapat menceritakan satu kisah secara keseluruhan. Setelah foto terpilih, kita dapat menyusun sedemikian rupa sehingga pemirsa dapat melihat inti dan detail dari cerita secara lengkap.
Untuk membuat rangkaian foto bercerita (photo story) yang bagus, kita tidak hanya membutuhkan pengetahuan bagaimana membuat foto yg baik, tapi juga ketrampilan untuk bercerita. Kita membutuhkan ide/topik, membuat perencanaan. Selain itu kita membutuhkan kerjasama antara otak, mata dan hati. Dengan kerjasama antara ketiganya dengan baik, kita bisa mengetahui kapan saat dan dimana saat yang tepat untuk membuat foto.
Seringkali, rangkaian foto tersebut tidak hanya dibuat dalam satu hari saja, tapi berhari-hari di tempat yang berbeda-beda. Jika yang diceritakan melibatkan orang, maka hubungan antara fotografer dengan subjek foto juga harus baik. Sikap yang tidak baik atau kata-kata yang salah bisa menghambat kita untuk mendapatkan foto yang bagus.
Meskipun terdiri dari beberapa foto, tapi rangkaian photo story memiliki benang merah yang mengkaitkan antara satu foto dengan yang lainnya. Mengkaitkan foto bisa melalui subjek foto yang sama, gaya foto atau warna, komposisi, tempat dan topik yang sama.
Ada dua istilah yang sering membingungkan yaitu istilah photo essay dan photo story
Perbedaan singkatnya adalah:
  • Photo Essay – menceritakan sebuah kisah, dan biasanya bertujuan sesuatu misalnya mengingatkan pemirsa akan bahaya narkoba, menceritakan pentingnya pelestarian lingkungan dan lain-lain. Foto-foto bisa dibuat di tempat dan dengan subjek foto yang berbeda-beda tapi masih satu topik yang sama.
  • Photo story – Bercerita tentang seseorang, tempat atau situasi, ada bagian awal, tengah dan akhirnya. Misalnya cerita tentang kehidupan seorang petani, dokter, dll.

Meskipun foto yang dibuat sebenarnya bebas-bebas saja, tapi untuk pemula atau fotografer yang menyukai struktur, ada beberapa jenis foto yang biasanya ada dalam rangkaian photo story/essay:
  • Establishing shot : Biasanya menggambarkan tempat/setting tempat kejadian, biasanya mengunakan lensa wide angle untuk memberikan kesan tiga dimensi, tapi terkadang, lensa tele juga digunakan.
  • Detail shot : Foto detail benda atau bagian dari orang yang penting, misalnya cincin kawin atau close-up air mata / bibir seseorang, biasanya lensa makro atau telefoto digunakan.
  • Interaction shot : Berisi interaksi dari dua orang atau lebih
  • Climax : Sebuah foto yang menggambarkan puncak dari sebuah acara
  • Closer/Clincher : Foto yang menutup cerita. Biasanya meninggalkan kesan, pesan, inspirasi atau motivasi


Lima langkah membuat photo story/essay:

  1. Tentukan topik misalnya cerita kegiatan seseorang selama sehari, atau esai tentang lingkungan hidup yang tercemar
  2. Riset – Cari informasi tentang topik yang dipilih
  3. Rencanakan foto-foto yang akan diambil (pemandangan, karakter/portrait, seni budaya, dll)
  4. Membuat foto di lokasi dan waktu yang telah direncanakan. Biasanya langkah ini yang paling banyak memakan waktu
  5. Editing dan pemilihan foto
  6. Tata letak/layout foto yang dipilih. Semakin penting fotonya semakin besar ukurannya relatif dengan foto yang lain


sumber : infofotografi.com/blog

Fotografi Jurnalistik

MACAM-MACAM FOTO JURNALISTIK


1. Spot News. Foto insidential yang terjadi tanpa perencanaan sebelumnya, Contoh: foto bencana, kerusuhuan, tabrakan kereta api, dan lainnya.

2. General news. Foto yang telah terjadwal sebelumnya. Contoh, Piala dunia, konser, Olimpiade, pemilu Presiden, dan lainnya.

3. People in the News. Foto tentang manusia dalam sebuah berita. Kecenderungan yang disajikan lebih bersifat profil seseorang. Bisa karena kelucuannya, ketokohannya, atau justru salah satu dari korban aksi teror, korban bencana, dan lainnya.

4. Daily life. Foto tentang berbagai aktifitas manusia yang mampu menggugah perasaan dalam kesehariannya atau memiliki sifat human interest. Misal, seorang nenek yang sedang menggendong beban berat di pundaknya berisi berbagai jenis makanan yang dia jajakan di jalan, dll.

5. Sosial and Environment. Foto yang menggambarkan tentang kehidupan sosial masyarakat dengan lingkungannya.
6. Art and Entertainment. Foto tentang seni dan budaya. Seperti, pertunjukkan wayang, sendra tari, tetare, pemeran lukisan, konser musik, dll.

7. Science and Technology. Foto tentang perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan. Misalnya penemuan situs purbakala, terciptanya robot yang super canggih, pemotretan organ tubuh, proses operasi seorang pasien, dll.

8. Portrait. Foto yang menggambarkan sosok wajah seseorang baik secara clouse up maupun medium shot. Foto ditampilkan karena kekhasan pada wajah yang dimilikinya.

9. Sport. Foto-foto peristiwa olahraga dari seluruh cabang olehraga apa saja. Baik dalam kompetisi nasional hingga internasional.



FOTO JURNALISTIK


1. FOTO ART & ENTERTAINMENT
Salah satu relief peninggalan bangsa Tionghoa yang terdapat di Klenteng Hok Tek Bio, Bogor. (28 April 2014)



2. FOTO GENERAL
Para calon presiden yang diusung partai demokrat bergantian memberikan statement dalam konvensi partai demokrat di Hotel Sahid, Jakarta Pusat (28 April 2014)



3. FOTO PEOPLE IN NEWS
Menteri BUMN Dahlan Iskan turut hadir memeriahkan senam dan pasar rakyat dalam HUT Pegadaian yang ke-113. (28 April 2014)



4. FOTO CONTEMPORER ISSUE
Sederet politikus yang dikabarkan akan diusung partai demokrat menjadi calon presiden (28 April 2014)



5. FOTO SPORT FEATURE
Kelincahan instruktur senam dalam memimpin senan saat HUT Pegadaian. (28 April 2014)



6. FOTO SPOT
Suasanya pasar senen pasca kebakaran.( 25 April 2014)



7. FOTO SPORT
 Antusiasme karyawan PT. Pegadaian dalam memeriahkan HUT pegadaian yang ke-113, Jakarta Timur. (28April 2014)

SUMBER: DOKUMEN DAN DATA PRIBADI

PHOTO STORY



“KEGIATAN DI PAGI HARI CAFE SOP DUREN LODAYA CABANG SUKASARI DAN PROSES PADA SAAT PENJUALAN “

Oleh : Desi Veronika


1. Pada pukul 08.00 pagi sebelum dibukanya outlet, karyawan Sop Duren Lodaya membersihkan outlet terlebih dahulu. (Bogor, 04/06/2014)


2. Setelah outlet bersih, Sop Duren Lodaya cabang Sukasari buku pukul 09.00 pagi (Bogor, 04/06/2014)

3. Tak berapa lama kemudian, datang karyawan pusat yang mengantarkan bahan-bahan produksi dari Gudang Sop Durian Lodaya, yang bertempat di Jalan Palayu Raya no. 10, Bantarjati. (Bogor, 04/06/2014)

4. Customer yang hendak masuk ke dalam outlet Sop Durian Lodaya pada pukul 19.00 WIB (Bogor, 04/6/2014)

5. Customer yang menuju tempat duduk dan hendak duduk di dalam outlet. (Bogor, 04/06/2014)

6. Waiter menghampiri customer, memberikan buku menu sehingga customer dapat memilih menu yang tersedia. (Bogor, 04/06/2014)

7. Setelah mengetahui menu yang diinginkan customer, waiter menginput pesanan melalui mesin yang akan terhubung ke bagian dapur. (Bogor, 04/06/2014)

8. Karyawan pembuat Sop Durian (atau yang disebut joki) sedang membuat pesanan di dapur. (Bogor, 04/06/2014)

9. Pesanan sudah jadi dan siap untuk diantarkan ke customer. (Bogor, 04/06/2014)

10. Setelah pesanan siap, waiter mengantarkan pesanan kepada customer yang telah memesan. (Bogor, 04/06/2014)

11. Setelah pesanan sampai, customer mulai menikmati hidangan Sop Durian Lodaya sesuai dengan menu yang telah dipesan. (Bogor, 04/06/2014)

12. Setelah menikmati hidangan, customer menuju kasir untuk membayar tagihan makanan yang telah dipesan. (Bogor, 04/06/2014)

13. Setelah menikati hidangan dan membayar tagihan, customer meninggalkan outlet Sop Durian Lodaya (Bogor, 04/06/2014)





FEATURE


PESONA UNIK KAWASAN GOA GUDAWANG
oleh : Desi Veronika


Stalaktit atau stalagmit merupakan bebatuan unik dengan bentuk mengkerucut  yang umumnya dapat ditemukan menggantung pada langit-langit goa atau di sekitar dinding-dinding goa. Menyaksikan pesona indah dan mengagumkan dari berbagai bebatuan, yang terbentuk secara alami dari tetesan air hujan sejak ratusan tahun lalu, merupakan sebuah kegiatan yang langka sekali.  Hal ini dikarenakan tidak semua goa yang dapat kita kunjungi memiliki bebatuan unik tersebut. Nah, bagi Anda yang memilih untuk berwisata dan mengunjungi pusat-pusat rekreasi yang tersaji di Kota Bogor, terdapat sebuah obyek wisata yang menarik dan sayang untuk dilewatkan. Dengan pesona alam yang masih begitu alami, ditambah keindahan dari bebatuan stalagtit dan stalagmit, serta keindahan goa-goa di sekitar kawasan. Salah satu obyek wisata yang tersembunyi dibalik sejuknya suasana alam di Kota Bogor tersebut, yakni Kawasan Goa Gudawang.
Lokasi Kawasan Goa Gudawang sendiri terletak di Desa Argapura, Kecamatan Gigudeg, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Selain itu, lokasinya berjarak kurang lebih 44 km dari Kota Bogor, dapat ditempuh dengan waktu sekitar dua jam apabila menggunakan kendaraan roda empat, namun apabila menggunakan motor perjalanan bisa ditempuh dengan waktu sekitar 1 jam saja. Akses menuju Kawasan Goa Gudawang juga dapat ditempuh dari arah Kota Tanggerang, yakni kurang lebih 60 km. Apabila kita menuju kesana dari arah Kota Bogor, kita akan melewati perkebunan kelapa sawit yang banyak terdapat disepanjang jalan menuju Goa Gudawang. Sawah dan kebun juga akan sering kita temukan karena daerah menuju Goa terbilang masih asri.
Keunikan dari Kawasan Goa Gudawang  yakni terdapat sekitar 12 goa dengan ukuran dan kedalaman yang berbeda-beda, dan tersebar di sekitar areal kawasan goa dengan luas kurang lebih 25 hektar. Sampai saat ini belum diketahui pasti bagaimana sejarah penemuan goa-goa tersebut. Menurut penuturan penjaga goa, nama Goa Gudawang sendiri diambil dari bahasa penduduk setempat yang berarti “ekor kuda yang dikepang”. Masih belum jelas apa hubungan arti nama tersebut dengan keadaan alam Goa Gudawang sendiri, ataupun dengan goa-goa yang ada di sekitar kawasan tersebut.
Biaya masuk Kawasan Goa Gudawang sendiri cukup murah, cukup merogoh kocek Rp 7.000,00 saja. Setelah membayar tiket, kita bisa langsung masuk tanpa harus menunggu lama. Disana, sudah ada beberapa orang guide yang menunggu apabila kita membutuhkan jasanya. Sampai di depan pintu utama Kawasan Goa, kita bisa melihat peta yang menunjukkan letak dari goa-goa yang ada di dalam Kawasan Goa. Nah, Kawasan Goa Gudawang sendiri memiliki 3 goa yang telah dikembangkan sebagai obyek wisata. Goa-goa tersebut yakni Goa Sipahang, Goa Simenteng dan Goa Simasigit.
Goa pertama adalah Goa Sipahang, yakni goa terpanjang yang ada disini. Berjalan serta menyusuri dalamnya Goa Sipahang akan menjadi kegiatan yang sangat berkesan. Hal ini dikarenakan panjang Goa Gudawang sendiri yang mencapai sekitar 750 meter. Tidak itu saja, medan yang akan dilewati pun tidak mudah. Keadaan di dalam Goa Sipahang sangat gelap, belum ada penerangan di dalamnya. Jadi kita harus menggunakan lampu emergency atau paling tidak senter. Jalanannya pun licin, dan tergenang air sampai setengah betis orang dewasa. Airnya berasal dari mata air bukit yang ada di belakang goa, jadi sebaiknya saat masuk ke dalam Goa Sipahang kita tidak perlu menggunakan alas kaki karena akan basah, atau lebih disarankan kita agar memakai sepatu boot. Kita dapat menggunakan jasa guide untuk masuk ke dalam Goa sipahang, karena keadaan goa yang licin dan bisa menyebabkan kita celaka apabila tidak berhati-hati. Sebelum memasuki areal goa kita akan diberi helm pengaman oleh guide agar kepala kita aman, ini dikarenakan Goa Sipahang memiliki batu yang menjulang ke bawah, sehingga untuk melewatinya kita harus menunduk bahkan terkadang kita sampai harus merangkak. Selain itu, di dalam goa kita juga bisa menemukan banyak sekali pesona yang tersembunyi. Mulai dari lorong-lorong goa dengan bentuk yang unik, Chamber atau sebuah ruangan yang luas di dalam perut goa, Gourdam atau kolam kecil yang terbentuk secara alami, serta bebatuan stalagtit dan stalagmit yang menggantung cantik di langit-langit ataupun dinding-dinding goa. Tidak hanya itu, adapula ikan-ikan dari yang seukuran tangan orang dewasa sampai ikan-ikan kecil yang hidup disana. Saya juga sempat menemukan kepiting disana, tapi kita harus jeli karena ikan-ikan dan kepiting tersebut tertutup lumpur. Ada juga jangkrik goa yang ukurannya sebesar kecoa, berbeda sekali dengan jangkrik biasa yang sering kita temui. Di langit-langit goa sendiri kita bisa menemukan sekumpulan kelelawar yang sedang tidur. Ya, di Goa Sipahang ini jumlah kelelawarnya sangat banyak, sehingga kita samar-samar bisa mencium bau kotoran kelelawar. Oleh karena itu, goa ini diberi nama Sipahang, diambil dari “Pahang” yang berarti bau. Goa Sipahang sendiri walaupun panjang tapi tidak dapat dimasuki sampai ujung goa, karena bagian menjelang ujung goa medannya sulit. Semakin menuju ujung, air yang menggenangi goa semakin tinggi, apalagi kalau sudah hujan kita malah tidak diperkenankan untuk masuk ke dalam goa. Saat hujan, air yang menggenang akan meninggi dan tidak menutup kemungkinan akan datang banjir atau air bah. Menurut guide yang menemani saya, pada tahun 2004 ada dua orang wisatawan yang meninggal akibat terbawa arus di dalam Goa Sipahang.
Goa kedua adalah Goa Simasigit. Goa ini luasnya tidak sepanjang Goa Sipahang. Goa Simasigit memiliki panjang kurang lebih 250 meter. Pintu masuk Goa Simasigit berbeda dengan Goa Sipahang yang masih asri dan alami. Di Goa Simasigit, pintu masuknya sudah dibentuk menyerupai mulit harimau yang telah dibangun sejak tahun 1990. Mengagumkan bukan? Pemandangan tersebut juga mampu memberikan suasana mistis bagi wisatawan yang menyaksikannya.   Setelah masuk ke dalam goa, kita akan melihat  permukaan Goa Simasigit yang ditutupi tanah liat. Jalannya licin dan sedikit lengket jadi kita harus berhati-hati agat tidak terpeleset. Sama seperti Goa Sipahang, Goa Simasigit belum memiliki penerangan, namun keadaannya tidak terlalu gelap dan menakutkan karena badan goa yang tidak panjang. Di dalam Goa Simasigit juga terdapat stalagtit dan stalagmit. Dari ketiga goa yang terdapat di Kawasan Goa Gudawang, stalagtit terbesar ada di Goa Simasigit.
Goa ketiga adalah Goa Simasigit. Pintu masuk goa juga sudah dibentuk menyerupai mulut harimau. Ini adalah Goa terpendek dari semua goa yang ada disana. Panjangnya hanya 30 meter. Berbeda dengan kedua goa lainnya, Goa Simenteng sudah memiliki penerangan. Keadaan di dalam goa juga tidak jauh berbeda dengan goa yang lainnya, tetap mempesona dan terdapat juga stalagtit dan stalagmit yang menggantung cantik,  walaupun jumlahnya bterbatas. Di dalam goa ini juga ada tangga menurun yang cukup tinggi. Setelah kita sampai di anak tangga terbawah, kita bisa menemukan mata air yang bersih. Biasanya orang-orang yang kesana menggunakan air itu untuk mencuci kaki, begitupun saya ketika mengunjungi goa tersebut.
Di Kawasan Goa Gudawang ini pun memiliki fasilitas yang lumayan lengkap. Disana ada semacam pondok yang disediakan untuk beristirahat. Adapula mushala dan kamar mandi yang layak. Apabila kita lapar, kita bisa membeli makanan di saung yang ada disana dengan harga normal, karena Kawasan Goa Gudawang ini berada di kawasan perkampungan penduduk. Nah, bagaimana? Menarik bukan? Kawasan Goa Gudawang selain memiliki pesona yang unik, kita juga tidak perlu mengeluarkan biaya yang mahal untuk menikmati segala keindahannya.







ARTIKEL : Desi Veronika



03 Mei 2014
Tema   : Media cetak vs digital
MEDIA ONLINE BERJAMUR, KORAN MULAI DITINGGALKAN
 
Setiap orang pasti memiliki kebutuhan untuk mengetahui informasi. Informasi dapat diperoleh dengan membaca, baik dari media cetak maupun digital. Media cetak merupakan media penyebaran berita yang tercetak untuk dikonsumsi oleh masyarakat luas. Perkembangan media cetak dari masa ke masa berkembang dengan pesat mengikuti perkembangan teknologi komunikasi. Berawal dari penemuan mesin cetak oleh Guttenberg yang digunakan untuk membuat Kitab Injil Mazarin Bible. Dilanjutkan pada tahun 1833 saat Bunyamin Day meluncurkan surat kabar New York Sun secara besar-besaran. Sejak saat itu masyarakat dunia mulai mengenal media cetak dan mulai memanfaatkannya untuk memperoleh informasi. Saat ini kemajuan media cetak pun semakin maju. Tidak seperti dulu yang masih menampilkan warna hitam putih, sekarang media cetak sudah dikemas dengan lebih menarik. Sedangkan teknologi digital lebih menekankan pada teknologi yang semakin maju. Hal ini bermula semenjak kehadiran internet.  Pola kehidupan dan pemikiran masyarakat pun sedikit demi sedikit semakin berubah. Masyarakat terasa begitu dimanjakan oleh teknologi, terlebih saat munculnya gadget dan fakta bahwa penggunaan internet semakin dinikmati oleh kebanyakan orang. Kita bisa melihat bagaimana internet membawa pengaruh yang sangat besar bagi masyarakat kita, terlebih dengan maraknya warung internet (warnet) yang tersebar dimana-mana. Internet telah merobohkan tembok pembatas antar informasi yang selama ini hanya bisa kita dapat dari media cetak.
Media cetak sendiri memiliki banyak macamnya, ada koran, majalah, tabloid, jurnal, dan masih banyak lagi yang akan memakan waktu apabila dipaparkan. Macam-macam dari media cetak tersebut memiliki fungsi dan keunggulannya masing-masing, namun agar lebih mudah kita fokuskan saja pada koran. Setiap orang pasti pernah membaca koran, atau paling tidak pernah mendengarnya. Media cetak yang satu ini biasanya terbit setiap hari. Di dalamnya banyak terdapat informasi, mulai dari berita politik, kriminalitas, gosip, tips-tips, iklan produk dan lowongan pekerjaan, dan masih banyak lagi. Koran menjadi salah satu sumber informasi yang selalu dicari-cari, namun itu dahulu. Saat ini, koran memang masih cukup diminati, tetapi penggunanya semakin hari semakin menurun. Masyarakat sekarang ini lebih senang memperoleh informasi melalui internet. Cukup dengan browsing melalui perangkat komputer atau gadget, kita dapat mengetahui berbagai jenis informasi yang ada. Menurut survei Nielsen Media Research di sembilan kota di Indonesia dengan populasi 43,87 juta orang dengan umur 10 tahun ke atas, pada kuartal III 2012, konsumsi koran justru mencapai titik terendah dalam lima tahun terakhir (awal 2009 mencapai 28 %, tetapi terus menurun tinggal 18 % pada kuartal III 2012). Hal ini mengkhawatirkan para perusahaan media cetak. Koran semaki  hari semakin ditinggalkan. Memang, masih ada yang mau membeli koran. Namun coba kita perhatikan baik-baik. Apakah kita sebagai generasi muda masih suka membeli koran? Jawabannya rata-rata pastilah jarang. Generasi muda yang jumlahnya paling banyak di Indonesia rata-rata tidak suka membeli koran. Konsemen terbesar koran saat ini adalah para orangtua. Mereka membeli koran karena umumnya masih gagap atau belum mengenal teknologi. Selain itu, kebiasaan mereka yang suka membaca koran di pagi hari sebagai teman minum kopi pun turut menjadi faktor pendorongnya. Konsumen yang membeli koran diperkirakan adalah orang-orang yang sekedar iseng. Hal ini sesuai dengan yang diungkapkan salah seorang pedagang koran yang menyatakan bahwa koran akan semakin laku saat sore hari, setelah harganya diturunkan menjadi murah. Sedangkan generasi muda saat ini semakin mahir dan akrab dengan teknologi. Oleh karenanya mereka lebih memilih online daripada membaca koran. Kondisi ini membuat perusahaan media cetak melakukan perubahan. Untuk mengatasi keterpurukan dan memenangkan persaingan, perusahaan media cetak contohnya Kompas memilih untuk menyampaikan informasi melalui media online. Mereka tidak hanya menyampaikan informasi melalui media cetaknya, namun juga mereka menyampaikan melalui media online. Konsep yang seperti ini pun sudah banyak digunakan oleh koran Tempo yang saat ini juga memiliki surat kabar digital, ada lagi Republika, Seputar Indonesia (Sindo), dan lain-lain.  Itulah konsep dasar yang membuat media online tumbuh dan berkembang hingga detik ini, bahkan semakin eksis setiap waktu.
Masyarakat beralih ke media online karena memang lebih praktis. Dengan membaca melalui media online, kita tidak perlu repot-repot keluar rumah untuk membeli koran, cukup dengan membuka laptop ataupun gadget, kita bisa langsung memperoleh informasi. Selain itu, informasi yang terdapat di media online pun terbilang sangat update. Berbeda dengan media cetak yang informasinya kurang update, karena informasi yang ditampilkan dalam media cetak memerlukan waktu untuk proses pengeditan hingga proses percetakan. Biaya yang dikeluarkan pun lebih murah dibandingkan membeli koran. Sekarang ini sudah banyak paket internet unlimited yang sedang gencar-gencarnya ditawarkan oleh kebanyakan provider. Selain itu, sekarang ini banyak tempat-tempat makan, maupun hiburan yang sudah memiliki fasilitas wi-fi. Dengan begitu, kita semakin mudah dalam mengakses informasi. Kalau dahulu kita biasanya membaca koran saat pagi hari, kini dengan adanya internet kita bisa mengakses informasi dimana saja, dan kapan saja.
Walaupun media online saat ini sedang digemari dan memiliki banyak sekali keuntungan, koran masih dapat bertahan. Hal ini dikarenakan semakin mahalnya biaya iklan untuk dimuat di koran. Terlebih saat ini, produksi iklan semakin banyak. Dengan banyaknya iklan, biaya produksi yang tidak kembali menjadi tertutupi sehingga koran masih bisa bertahan. Kita tentu saja tidak ingin apabila koran benar-benar tidak diproduksi lagi. Kehadiran koran telah begitu melekat dalam kehidupan masyarakat kita, sehingga jika koran tidak lagi terbit, tentu akan menghilangkan tadisi budaya membaca koran secara utuh. Peran koran lokal (daerah) misalnya, memberikan kontribusi yang besar terhadap perkembangan daerah, dimana koran itu terbit. Masyarakat juga selalu membutuhkan informasi berita lokal dibandingkan berita nasional maupun internasional.

Kita hanya bisa berharap agar hadirnya berita melalui media online tidak akan memberi pengaruh yang besar bagi perkembangan media cetak kedepannya. Hadirnya kedua media tersebut diharapkan bisa saling melengkapi baik kekurangan maupun kelebihannya. Masyarakat juga akan selalu berharap agar berita yang disajikan baik dalam bentuk media cetak maupun media digital, dapat memberi pengaruh positif dan bermanfaat bagi pembacanya.