Jumat, 19 Desember 2014
Rabu, 17 Desember 2014
PHOTO ESSAY DAN PHOTO STORY
MENGUAK PERBEDAAN ANTARA PHOTO ESSAY DAN PHOTO STORY
Banyak orang bisa menulis, tapi sedikit yang bisa mengarang, banyak orang yang bisa motret, tapi jarang yang bisa membuat foto yang bercerita. Fotografi adalah salah satu media untuk bercerita yang sangat baik. Seringkali, fotografi yang baik dapat menggugah perasaan dibandingkan dengan tulisan semata. Mampu membuat foto yang bercerita merupakan suatu hal yang baik untuk mendapatkan pekerjaan di bidang fotografi terutama fotojurnalisme.
Dalam mengunakan fotografi untuk bercerita, biasanya fotografer mengunakan beberapa foto. Karena jarang satu foto dapat menceritakan satu kisah secara keseluruhan. Setelah foto terpilih, kita dapat menyusun sedemikian rupa sehingga pemirsa dapat melihat inti dan detail dari cerita secara lengkap.
Untuk membuat rangkaian foto bercerita (photo story) yang bagus, kita tidak hanya membutuhkan pengetahuan bagaimana membuat foto yg baik, tapi juga ketrampilan untuk bercerita. Kita membutuhkan ide/topik, membuat perencanaan. Selain itu kita membutuhkan kerjasama antara otak, mata dan hati. Dengan kerjasama antara ketiganya dengan baik, kita bisa mengetahui kapan saat dan dimana saat yang tepat untuk membuat foto.
Seringkali, rangkaian foto tersebut tidak hanya dibuat dalam satu hari saja, tapi berhari-hari di tempat yang berbeda-beda. Jika yang diceritakan melibatkan orang, maka hubungan antara fotografer dengan subjek foto juga harus baik. Sikap yang tidak baik atau kata-kata yang salah bisa menghambat kita untuk mendapatkan foto yang bagus.
Meskipun terdiri dari beberapa foto, tapi rangkaian photo story memiliki benang merah yang mengkaitkan antara satu foto dengan yang lainnya. Mengkaitkan foto bisa melalui subjek foto yang sama, gaya foto atau warna, komposisi, tempat dan topik yang sama.
Ada dua istilah yang sering membingungkan yaitu istilah photo essay dan photo story
Perbedaan singkatnya adalah:
- Photo Essay – menceritakan sebuah kisah, dan biasanya bertujuan sesuatu misalnya mengingatkan pemirsa akan bahaya narkoba, menceritakan pentingnya pelestarian lingkungan dan lain-lain. Foto-foto bisa dibuat di tempat dan dengan subjek foto yang berbeda-beda tapi masih satu topik yang sama.
- Photo story – Bercerita tentang seseorang, tempat atau situasi, ada bagian awal, tengah dan akhirnya. Misalnya cerita tentang kehidupan seorang petani, dokter, dll.
Meskipun foto yang dibuat sebenarnya bebas-bebas saja, tapi untuk pemula atau fotografer yang menyukai struktur, ada beberapa jenis foto yang biasanya ada dalam rangkaian photo story/essay:
- Establishing shot : Biasanya menggambarkan tempat/setting tempat kejadian, biasanya mengunakan lensa wide angle untuk memberikan kesan tiga dimensi, tapi terkadang, lensa tele juga digunakan.
- Detail shot : Foto detail benda atau bagian dari orang yang penting, misalnya cincin kawin atau close-up air mata / bibir seseorang, biasanya lensa makro atau telefoto digunakan.
- Interaction shot : Berisi interaksi dari dua orang atau lebih
- Climax : Sebuah foto yang menggambarkan puncak dari sebuah acara
- Closer/Clincher : Foto yang menutup cerita. Biasanya meninggalkan kesan, pesan, inspirasi atau motivasi
Lima langkah membuat photo story/essay:
- Tentukan topik misalnya cerita kegiatan seseorang selama sehari, atau esai tentang lingkungan hidup yang tercemar
- Riset – Cari informasi tentang topik yang dipilih
- Rencanakan foto-foto yang akan diambil (pemandangan, karakter/portrait, seni budaya, dll)
- Membuat foto di lokasi dan waktu yang telah direncanakan. Biasanya langkah ini yang paling banyak memakan waktu
- Editing dan pemilihan foto
- Tata letak/layout foto yang dipilih. Semakin penting fotonya semakin besar ukurannya relatif dengan foto yang lain
sumber : infofotografi.com/blog
Fotografi Jurnalistik
MACAM-MACAM FOTO JURNALISTIK
| 1. Spot News. Foto insidential yang terjadi tanpa perencanaan sebelumnya, Contoh: foto bencana, kerusuhuan, tabrakan kereta api, dan lainnya. 2. General news. Foto yang telah terjadwal sebelumnya. Contoh, Piala dunia, konser, Olimpiade, pemilu Presiden, dan lainnya. 3. People in the News. Foto tentang manusia dalam sebuah berita. Kecenderungan yang disajikan lebih bersifat profil seseorang. Bisa karena kelucuannya, ketokohannya, atau justru salah satu dari korban aksi teror, korban bencana, dan lainnya. 4. Daily life. Foto tentang berbagai aktifitas manusia yang mampu menggugah perasaan dalam kesehariannya atau memiliki sifat human interest. Misal, seorang nenek yang sedang menggendong beban berat di pundaknya berisi berbagai jenis makanan yang dia jajakan di jalan, dll. 5. Sosial and Environment. Foto yang menggambarkan tentang kehidupan sosial masyarakat dengan lingkungannya.
|
FOTO JURNALISTIK
1. FOTO ART & ENTERTAINMENT
Salah satu relief peninggalan bangsa
Tionghoa yang terdapat di Klenteng Hok Tek Bio, Bogor. (28 April 2014)
2. FOTO GENERAL
Para calon presiden yang diusung partai
demokrat bergantian memberikan statement dalam konvensi partai demokrat di
Hotel Sahid, Jakarta Pusat (28 April 2014)
3. FOTO PEOPLE IN NEWS
Menteri BUMN Dahlan Iskan turut hadir
memeriahkan senam dan pasar rakyat dalam HUT Pegadaian yang ke-113. (28 April
2014)
4. FOTO CONTEMPORER ISSUE
Sederet politikus yang dikabarkan akan diusung
partai demokrat menjadi calon presiden (28 April 2014)
5. FOTO SPORT FEATURE
Kelincahan
instruktur senam dalam memimpin senan saat HUT Pegadaian. (28 April 2014)
6. FOTO SPOT
Suasanya pasar senen pasca kebakaran.( 25
April 2014)
7. FOTO SPORT
Antusiasme karyawan PT. Pegadaian dalam
memeriahkan HUT pegadaian yang ke-113, Jakarta Timur. (28April 2014)
SUMBER: DOKUMEN DAN DATA PRIBADI
PHOTO STORY
“KEGIATAN DI PAGI HARI CAFE SOP DUREN LODAYA CABANG SUKASARI DAN
PROSES PADA SAAT PENJUALAN “
Oleh : Desi Veronika
1. Pada
pukul 08.00 pagi sebelum dibukanya outlet, karyawan Sop Duren Lodaya
membersihkan outlet terlebih dahulu. (Bogor, 04/06/2014)
2. Setelah outlet bersih, Sop Duren Lodaya cabang
Sukasari buku pukul 09.00 pagi (Bogor, 04/06/2014)
3. Tak berapa lama kemudian, datang karyawan pusat
yang mengantarkan bahan-bahan produksi dari Gudang Sop Durian Lodaya, yang bertempat di Jalan Palayu Raya no. 10,
Bantarjati. (Bogor, 04/06/2014)
4. Customer yang hendak masuk ke dalam outlet Sop Durian Lodaya pada pukul 19.00
WIB (Bogor, 04/6/2014)
5. Customer yang menuju tempat duduk dan hendak duduk di dalam outlet. (Bogor,
04/06/2014)
6. Waiter menghampiri customer, memberikan buku menu sehingga
customer dapat memilih menu yang tersedia. (Bogor, 04/06/2014)
7. Setelah mengetahui menu
yang diinginkan customer, waiter
menginput pesanan melalui mesin yang akan terhubung ke bagian dapur. (Bogor,
04/06/2014)
8. Karyawan pembuat Sop
Durian (atau yang disebut joki) sedang membuat pesanan di dapur. (Bogor,
04/06/2014)
9. Pesanan
sudah jadi dan siap untuk diantarkan ke customer.
(Bogor, 04/06/2014)
10. Setelah
pesanan siap, waiter mengantarkan pesanan kepada customer yang telah memesan. (Bogor, 04/06/2014)
11. Setelah pesanan sampai,
customer mulai menikmati hidangan Sop
Durian Lodaya sesuai dengan menu yang telah dipesan. (Bogor, 04/06/2014)
12. Setelah menikmati
hidangan, customer menuju kasir untuk
membayar tagihan makanan yang telah dipesan. (Bogor, 04/06/2014)
13. Setelah
menikati hidangan dan membayar tagihan, customer
meninggalkan outlet Sop Durian Lodaya (Bogor, 04/06/2014)
FEATURE
PESONA
UNIK KAWASAN GOA GUDAWANG
oleh : Desi Veronika
Stalaktit
atau stalagmit merupakan bebatuan unik dengan bentuk mengkerucut yang umumnya dapat ditemukan menggantung pada
langit-langit goa atau di sekitar dinding-dinding goa. Menyaksikan pesona indah
dan mengagumkan dari berbagai bebatuan, yang terbentuk secara alami dari
tetesan air hujan sejak ratusan tahun lalu, merupakan sebuah kegiatan yang
langka sekali. Hal ini dikarenakan tidak
semua goa yang dapat kita kunjungi memiliki bebatuan unik tersebut. Nah, bagi
Anda yang memilih untuk berwisata dan mengunjungi pusat-pusat rekreasi yang
tersaji di Kota Bogor, terdapat sebuah obyek wisata yang menarik dan sayang
untuk dilewatkan. Dengan pesona alam yang masih begitu alami, ditambah
keindahan dari bebatuan stalagtit dan stalagmit, serta keindahan goa-goa di
sekitar kawasan. Salah satu obyek wisata yang tersembunyi dibalik sejuknya
suasana alam di Kota Bogor tersebut, yakni Kawasan Goa Gudawang.
Lokasi
Kawasan Goa Gudawang sendiri terletak di Desa Argapura, Kecamatan Gigudeg,
Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Selain itu, lokasinya berjarak kurang lebih 44 km
dari Kota Bogor, dapat ditempuh dengan waktu sekitar dua jam apabila
menggunakan kendaraan roda empat, namun apabila menggunakan motor perjalanan
bisa ditempuh dengan waktu sekitar 1 jam saja. Akses menuju Kawasan Goa
Gudawang juga dapat ditempuh dari arah Kota Tanggerang, yakni kurang lebih 60
km. Apabila kita menuju kesana dari arah Kota Bogor, kita akan melewati
perkebunan kelapa sawit yang banyak terdapat disepanjang jalan menuju Goa
Gudawang. Sawah dan kebun juga akan sering kita temukan karena daerah menuju
Goa terbilang masih asri.
Keunikan
dari Kawasan Goa Gudawang yakni terdapat
sekitar 12 goa dengan ukuran dan kedalaman yang berbeda-beda, dan tersebar di
sekitar areal kawasan goa dengan luas kurang lebih 25 hektar. Sampai saat ini
belum diketahui pasti bagaimana sejarah penemuan goa-goa tersebut. Menurut
penuturan penjaga goa, nama Goa Gudawang sendiri diambil dari bahasa penduduk
setempat yang berarti “ekor kuda yang dikepang”. Masih belum jelas apa hubungan
arti nama tersebut dengan keadaan alam Goa Gudawang sendiri, ataupun dengan
goa-goa yang ada di sekitar kawasan tersebut.
Biaya
masuk Kawasan Goa Gudawang sendiri cukup murah, cukup merogoh kocek Rp 7.000,00
saja. Setelah membayar tiket, kita bisa langsung masuk tanpa harus menunggu
lama. Disana, sudah ada beberapa orang guide yang menunggu apabila kita
membutuhkan jasanya. Sampai di depan pintu utama Kawasan Goa, kita bisa melihat
peta yang menunjukkan letak dari goa-goa yang ada di dalam Kawasan Goa. Nah,
Kawasan Goa Gudawang sendiri memiliki 3 goa yang telah dikembangkan sebagai
obyek wisata. Goa-goa tersebut yakni Goa Sipahang, Goa Simenteng dan Goa
Simasigit.
Goa
pertama adalah Goa Sipahang, yakni goa terpanjang yang ada disini. Berjalan
serta menyusuri dalamnya Goa Sipahang akan menjadi kegiatan yang sangat
berkesan. Hal ini dikarenakan panjang Goa Gudawang sendiri yang mencapai
sekitar 750 meter. Tidak itu saja, medan yang akan dilewati pun tidak mudah.
Keadaan di dalam Goa Sipahang sangat gelap, belum ada penerangan di dalamnya. Jadi
kita harus menggunakan lampu emergency
atau paling tidak senter. Jalanannya pun licin, dan tergenang air sampai
setengah betis orang dewasa. Airnya berasal dari mata air bukit yang ada di
belakang goa, jadi sebaiknya saat masuk ke dalam Goa Sipahang kita tidak perlu
menggunakan alas kaki karena akan basah, atau lebih disarankan kita agar
memakai sepatu boot. Kita dapat menggunakan jasa guide untuk masuk ke dalam Goa sipahang, karena keadaan goa yang
licin dan bisa menyebabkan kita celaka apabila tidak berhati-hati. Sebelum
memasuki areal goa kita akan diberi helm pengaman oleh guide agar kepala kita aman, ini dikarenakan Goa Sipahang memiliki
batu yang menjulang ke bawah, sehingga untuk melewatinya kita harus menunduk
bahkan terkadang kita sampai harus merangkak. Selain itu, di dalam goa kita
juga bisa menemukan banyak sekali pesona yang tersembunyi. Mulai dari
lorong-lorong goa dengan bentuk yang unik, Chamber atau sebuah ruangan yang
luas di dalam perut goa, Gourdam atau kolam kecil yang terbentuk secara alami,
serta bebatuan stalagtit dan stalagmit yang menggantung cantik di langit-langit
ataupun dinding-dinding goa. Tidak hanya itu, adapula ikan-ikan dari yang seukuran
tangan orang dewasa sampai ikan-ikan kecil yang hidup disana. Saya juga sempat
menemukan kepiting disana, tapi kita harus jeli karena ikan-ikan dan kepiting
tersebut tertutup lumpur. Ada juga jangkrik goa yang ukurannya sebesar kecoa,
berbeda sekali dengan jangkrik biasa yang sering kita temui. Di langit-langit
goa sendiri kita bisa menemukan sekumpulan kelelawar yang sedang tidur. Ya, di
Goa Sipahang ini jumlah kelelawarnya sangat banyak, sehingga kita samar-samar
bisa mencium bau kotoran kelelawar. Oleh karena itu, goa ini diberi nama
Sipahang, diambil dari “Pahang” yang berarti bau. Goa Sipahang sendiri walaupun
panjang tapi tidak dapat dimasuki sampai ujung goa, karena bagian menjelang
ujung goa medannya sulit. Semakin menuju ujung, air yang menggenangi goa
semakin tinggi, apalagi kalau sudah hujan kita malah tidak diperkenankan untuk
masuk ke dalam goa. Saat hujan, air yang menggenang akan meninggi dan tidak
menutup kemungkinan akan datang banjir atau air bah. Menurut guide yang menemani saya, pada tahun
2004 ada dua orang wisatawan yang meninggal akibat terbawa arus di dalam Goa
Sipahang.
Goa
kedua adalah Goa Simasigit. Goa ini luasnya tidak sepanjang Goa Sipahang. Goa
Simasigit memiliki panjang kurang lebih 250 meter. Pintu masuk Goa Simasigit
berbeda dengan Goa Sipahang yang masih asri dan alami. Di Goa Simasigit, pintu
masuknya sudah dibentuk menyerupai mulit harimau yang telah dibangun sejak
tahun 1990. Mengagumkan bukan? Pemandangan tersebut juga mampu memberikan
suasana mistis bagi wisatawan yang menyaksikannya. Setelah masuk ke dalam goa, kita akan
melihat permukaan Goa Simasigit yang
ditutupi tanah liat. Jalannya licin dan sedikit lengket jadi kita harus
berhati-hati agat tidak terpeleset. Sama seperti Goa Sipahang, Goa Simasigit
belum memiliki penerangan, namun keadaannya tidak terlalu gelap dan menakutkan
karena badan goa yang tidak panjang. Di dalam Goa Simasigit juga terdapat
stalagtit dan stalagmit. Dari ketiga goa yang terdapat di Kawasan Goa Gudawang,
stalagtit terbesar ada di Goa Simasigit.
Goa
ketiga adalah Goa Simasigit. Pintu masuk goa juga sudah dibentuk menyerupai
mulut harimau. Ini adalah Goa terpendek dari semua goa yang ada disana. Panjangnya
hanya 30 meter. Berbeda dengan kedua goa lainnya, Goa Simenteng sudah memiliki
penerangan. Keadaan di dalam goa juga tidak jauh berbeda dengan goa yang
lainnya, tetap mempesona dan terdapat juga stalagtit dan stalagmit yang
menggantung cantik, walaupun jumlahnya
bterbatas. Di dalam goa ini juga ada tangga menurun yang cukup tinggi. Setelah
kita sampai di anak tangga terbawah, kita bisa menemukan mata air yang bersih.
Biasanya orang-orang yang kesana menggunakan air itu untuk mencuci kaki,
begitupun saya ketika mengunjungi goa tersebut.
Di
Kawasan Goa Gudawang ini pun memiliki fasilitas yang lumayan lengkap. Disana
ada semacam pondok yang disediakan untuk beristirahat. Adapula mushala dan
kamar mandi yang layak. Apabila kita lapar, kita bisa membeli makanan di saung
yang ada disana dengan harga normal, karena Kawasan Goa Gudawang ini berada di
kawasan perkampungan penduduk. Nah, bagaimana? Menarik bukan? Kawasan Goa
Gudawang selain memiliki pesona yang unik, kita juga tidak perlu mengeluarkan
biaya yang mahal untuk menikmati segala keindahannya.
ARTIKEL : Desi Veronika
03
Mei 2014
Tema : Media cetak vs digital
MEDIA
ONLINE BERJAMUR, KORAN MULAI DITINGGALKAN
Setiap
orang pasti memiliki kebutuhan untuk mengetahui informasi. Informasi dapat
diperoleh dengan membaca, baik dari media cetak maupun digital. Media cetak merupakan
media penyebaran berita yang tercetak untuk dikonsumsi oleh masyarakat luas. Perkembangan
media cetak dari masa ke masa berkembang dengan pesat mengikuti perkembangan
teknologi komunikasi. Berawal dari penemuan mesin cetak oleh Guttenberg yang digunakan
untuk membuat Kitab Injil Mazarin Bible. Dilanjutkan pada tahun 1833 saat
Bunyamin Day meluncurkan surat kabar New York Sun secara besar-besaran. Sejak
saat itu masyarakat dunia mulai mengenal media cetak dan mulai memanfaatkannya
untuk memperoleh informasi. Saat ini kemajuan media cetak pun semakin maju.
Tidak seperti dulu yang masih menampilkan warna hitam putih, sekarang media
cetak sudah dikemas dengan lebih menarik. Sedangkan teknologi digital lebih
menekankan pada teknologi yang semakin maju. Hal ini bermula semenjak kehadiran
internet. Pola kehidupan dan pemikiran
masyarakat pun sedikit demi sedikit semakin berubah. Masyarakat terasa begitu
dimanjakan oleh teknologi, terlebih saat munculnya gadget dan fakta bahwa penggunaan internet semakin dinikmati oleh
kebanyakan orang. Kita bisa melihat bagaimana internet membawa pengaruh yang
sangat besar bagi masyarakat kita, terlebih dengan maraknya warung internet
(warnet) yang tersebar dimana-mana. Internet telah merobohkan tembok pembatas
antar informasi yang selama ini hanya bisa kita dapat dari media cetak.
Media
cetak sendiri memiliki banyak macamnya, ada koran, majalah, tabloid, jurnal,
dan masih banyak lagi yang akan memakan waktu apabila dipaparkan. Macam-macam
dari media cetak tersebut memiliki fungsi dan keunggulannya masing-masing,
namun agar lebih mudah kita fokuskan saja pada koran. Setiap orang pasti pernah
membaca koran, atau paling tidak pernah mendengarnya. Media cetak yang satu ini
biasanya terbit setiap hari. Di dalamnya banyak terdapat informasi, mulai dari
berita politik, kriminalitas, gosip, tips-tips, iklan produk dan lowongan
pekerjaan, dan masih banyak lagi. Koran menjadi salah satu sumber informasi
yang selalu dicari-cari, namun itu dahulu. Saat ini, koran memang masih cukup
diminati, tetapi penggunanya semakin hari semakin menurun. Masyarakat sekarang
ini lebih senang memperoleh informasi melalui internet. Cukup dengan browsing melalui perangkat komputer atau
gadget, kita dapat mengetahui
berbagai jenis informasi yang ada. Menurut survei Nielsen Media Research di sembilan kota di
Indonesia dengan populasi 43,87 juta orang dengan umur 10 tahun ke atas, pada
kuartal III 2012, konsumsi koran justru mencapai titik terendah dalam lima
tahun terakhir (awal 2009 mencapai 28 %, tetapi terus menurun tinggal 18 % pada
kuartal III 2012). Hal ini mengkhawatirkan para perusahaan media cetak. Koran
semaki hari semakin ditinggalkan.
Memang, masih ada yang mau membeli koran. Namun coba kita perhatikan baik-baik.
Apakah kita sebagai generasi muda masih suka membeli koran? Jawabannya
rata-rata pastilah jarang. Generasi muda yang jumlahnya paling banyak di
Indonesia rata-rata tidak suka membeli koran. Konsemen terbesar koran saat ini
adalah para orangtua. Mereka membeli koran karena umumnya masih gagap atau
belum mengenal teknologi. Selain itu, kebiasaan mereka yang suka membaca koran
di pagi hari sebagai teman minum kopi pun turut menjadi faktor pendorongnya. Konsumen
yang membeli koran diperkirakan adalah orang-orang yang sekedar iseng. Hal ini
sesuai dengan yang diungkapkan salah seorang pedagang koran yang menyatakan
bahwa koran akan semakin laku saat sore hari, setelah harganya diturunkan
menjadi murah. Sedangkan generasi muda saat ini semakin mahir dan akrab dengan
teknologi. Oleh karenanya mereka lebih memilih online daripada membaca koran. Kondisi
ini membuat perusahaan media cetak melakukan perubahan. Untuk mengatasi
keterpurukan dan memenangkan persaingan, perusahaan media cetak contohnya Kompas
memilih untuk menyampaikan informasi melalui media online. Mereka tidak hanya
menyampaikan informasi melalui media cetaknya, namun juga mereka menyampaikan
melalui media online. Konsep yang seperti ini pun sudah banyak digunakan oleh
koran Tempo yang saat ini juga memiliki surat kabar digital, ada lagi
Republika, Seputar Indonesia (Sindo), dan lain-lain. Itulah konsep dasar yang membuat media online
tumbuh dan berkembang hingga detik ini, bahkan semakin eksis setiap waktu.
Masyarakat beralih ke media online
karena memang lebih praktis. Dengan membaca melalui media online, kita tidak
perlu repot-repot keluar rumah untuk membeli koran, cukup dengan membuka laptop
ataupun gadget, kita bisa langsung
memperoleh informasi. Selain itu, informasi yang terdapat di media online pun
terbilang sangat update. Berbeda
dengan media cetak yang informasinya kurang update,
karena informasi yang ditampilkan dalam media cetak memerlukan waktu untuk
proses pengeditan hingga proses percetakan. Biaya yang dikeluarkan pun lebih
murah dibandingkan membeli koran. Sekarang ini sudah banyak paket internet unlimited yang sedang gencar-gencarnya
ditawarkan oleh kebanyakan provider.
Selain itu, sekarang ini banyak tempat-tempat makan, maupun hiburan yang sudah
memiliki fasilitas wi-fi. Dengan
begitu, kita semakin mudah dalam mengakses informasi. Kalau dahulu kita
biasanya membaca koran saat pagi hari, kini dengan adanya internet kita bisa
mengakses informasi dimana saja, dan kapan saja.
Walaupun media online saat ini sedang
digemari dan memiliki banyak sekali keuntungan, koran masih dapat bertahan. Hal
ini dikarenakan semakin mahalnya biaya iklan untuk dimuat di koran. Terlebih
saat ini, produksi iklan semakin banyak. Dengan banyaknya iklan, biaya produksi
yang tidak kembali menjadi tertutupi sehingga koran masih bisa bertahan. Kita
tentu saja tidak ingin apabila koran benar-benar tidak diproduksi lagi. Kehadiran
koran telah begitu melekat dalam kehidupan masyarakat kita, sehingga jika koran tidak lagi
terbit, tentu akan menghilangkan tadisi budaya membaca koran secara utuh. Peran
koran lokal (daerah) misalnya, memberikan kontribusi yang besar terhadap
perkembangan daerah, dimana koran itu terbit. Masyarakat juga selalu
membutuhkan informasi berita lokal dibandingkan berita nasional maupun
internasional.
Kita hanya bisa berharap agar hadirnya berita melalui media online tidak akan memberi pengaruh yang besar bagi perkembangan media cetak kedepannya. Hadirnya kedua media tersebut diharapkan bisa saling melengkapi baik kekurangan maupun kelebihannya. Masyarakat juga akan selalu berharap agar berita yang disajikan baik dalam bentuk media cetak maupun media digital, dapat memberi pengaruh positif dan bermanfaat bagi pembacanya.
Kita hanya bisa berharap agar hadirnya berita melalui media online tidak akan memberi pengaruh yang besar bagi perkembangan media cetak kedepannya. Hadirnya kedua media tersebut diharapkan bisa saling melengkapi baik kekurangan maupun kelebihannya. Masyarakat juga akan selalu berharap agar berita yang disajikan baik dalam bentuk media cetak maupun media digital, dapat memberi pengaruh positif dan bermanfaat bagi pembacanya.
Cerpen
Semua Ada Waktunya
oleh : Desi Veronika
Juni 2003
Ketika itu adalah liburan kenaikan
kelas. Aku naik kelas 6 SD. Suatu sore, namboru menelepon mama, mengabari kami
bahwa opungku yang dari Medan akan datang ke Jawa, rumah namboruku. Beliau
ingin melihat kami, anak dan cucunya, sehingga kami harus datang kesana. Aku
sendiri ketika itu tidak terlalu mengingat wajah namboruku dan
saudara-saudaraku yang tinggal di Jawa karena terakhir kali bertemu adalah
ketika aku masih sangat kecil.
Perjalanan kami ke rumah namboru
menggunakan bus antar provinsi. Berangkat dari terminal Bogor pukul satu siang.
Kala itu, matahari tidak malu-malu mengeluarkan teriknya. Aku jujur saja kesal
dan kurang bersemangat, sejak dulu aku memang suka mabuk apabila berpergian
jauh. Maklum, aku termasuk anak rumahan yang jarang sekali berpergian jauh.
Untungnya bus yang kami tumpangi ada AC-nya sehingga aku tidak terlalu pengap.
Aku menghabiskan waktu di perjalanan dengan tidur. Seharusnya, kami sampai di
rumah nanguda pukul sebelas malam, atau paling lambat pukul satu subuh seharusnya
kami sudah sampai. Namun, bus kami kena macet parah. Kami sampai di rumah
namboru pukul lima subuh. Saat itu entah sudah berapa kantung plastik yang
habis untuk menampung muntahku. Setelah sampai di depan rumah namboruku, yang
untungnya berada tepat di pinggir jalan besar, aku merasa sangat lega. Tidak
sabar rasanya aku untuk berbaring diranjang yang empuk dan hangat.
Kami mengetuk pintu rumah namboru.
Begitu pintu rumah dibuka, muncullah seorang wanita paruh baya yang kutaksir
berusia akhir 30-an. Rambutnya yang keriting dan dagunya yang runcing
mengingatkan aku akan sosok bapakku. Ah..pastilah ini namboru, pikirku kala
itu.
“Loh, kalian kok baru sampai.
Kupikir kalian tidak jadi datang. Ayo masuk,”sambutnya dengan hangat. Setelahnya
namboru masih sibuk berceloteh riang sambil membimbing kami masuk ke rumah. Aku
yang memang tidak ingat akan Beliau, sekarang jadi sedikit mengerti bahwa
namboruku yang satu ini terbilang cerewet.
Di dalam rumah ternyata sudah
berkumpul sanak keluarga kami yang lain. Ada amangboruku, juga ada
sepupu-sepupuku. Sekilas kuperhatikan ada yang sedang tidur di atas kasur yang
digelar di depan TV, ada yang masih minum susu, makan dan lain-lain. Aku tidak
begitu memperhatikan mereka. Karena selain tidak kenal, badanku sedang kurang
fit. Ketika itu, sepupu laki-lakiku terbangun dari tidurnya yang kala itu tidur
membelakangiku. Ia berbalik, melihat ke arah kami, lalu mengucek-ucek matanya.
Deg..deg…deg…jantungku tiba-tiba
bergetar hebat ketika kutatap wajahnya. Rasanya, kantukku yang sedari tadi
menyerang hebat kini bagai hilang terbawa angin. Kesadaranku pulih total.
Inderaku menjadi sensitive. Banyak pertanyaan yang muncul di benakku
mengenainya seperti siapakah dia, apakah dia anak namboruku, ataupun kenapa aku
baru tahu kalau namboruku memiliki anak seusia dia yang kutaksir sudah duduk di
bangku SMA. Hm…benar-benar wajah yang manis sekali. Laki-laki itu mengalihkan
pikiranku, membuatku terbawa angan-anganku sendiri. Mungkin ini bisa disebut
dengan cinta monyet pada pandangan pertama.
“Eh sudah bangun kau rupanya Rizal.
Ini tulang sama nangtulang sudah datang. Salamlah dulu. Rupanya kena macet
mereka di jalan makanya terlambat sampai,”oceh namboru membuyarkan lamunanku.
Ah.. jadi namanya abang Rizal. Nama itu terus saja
bergema dipikiranku. Dia pun bangkit dan menghampiri kami. Menyalami bapak,
mama, aku dan adik-adikku. Saat tangan kami bersentuhan, aku rasanya malu
sekali. Ingin aku ditelan bumi saja. Sebelumnya aku yang tidak pernah
memperhatikan penampilan, kini aku khawatir kalau-kalau penampilanku terlihat
kucel dan kusam. Aku ingin terlihat cantik dimatanya. Ah..mungkin aku yang
terlalu cepat puber.
Aku menghabiskan masa liburan
sekolahku selama dua minggu di rumah namboru. Hari-hari yang kulalui di sana
kuhabiskan dengan perasaan yang campur aduk. Perasaan antara malu setiap kali berpapasan dengannya,
perasaan sedih karena ternyata dia orangnya sangat pendiam dan tidak pernah
sekalipun mengajakku ngobrol, perasaan rendah diriku karena merasa aku tidak
sebanding dengan dirinya yang sudah remaja sedangkan aku masih kecil, dan juga
perasaan kagum akan sosoknya yang rajin.
Omong-omong soal rajin, abangku yang satu ini
memang rajin sekali. Waktu itu aku ke dapur melewati kamar mandi, di mana saat
itu abang sedang mandi. Aku mendengar suara orang sedang menyikat baju.
Keesokan harinya pada saat dia sedang mandi, aku lewat lagi di depan kamar
mandi, sama seperti hari sebelumnya, terdengar lagi olehku dia yang sedang
menyikat baju. Padahal jika dipikir-pikir lagi, buat apa dia mencuci bajunya,
toh di rumah namboru sudah ada tukang cuci yang datang setiap paginya untuk
mencuci. Tidak sampai di situ saja, abang juga termasuk orang yang selalu
bangun pagi.
Dan setelah bangun dia pasti menyapu
halaman rumahnya yang cukup lebar itu. Setiap kali aku bangun, dia pasti sudah
hampir selesai menyapu halaman. Itu membuatku semakin merasa tidak pantas
untuknya. Apalagi mengingat kebiasaanku yang tidak suka bangun pagi.
Intinya, selama berada di rumah
namboru aku merasakan yang namanya surga dan neraka. Surga yaitu ketika aku
dapat melihat senyum manisnya secara sembunyi-sembunyi tanpa dia tahu aku
perhatikan, ketika aku mendengar suaranya secara diam-diam dan dan merasa
terhibur karenanya.
Lalu merasa di neraka ketika kami
pertama kali berpapasan di pagi hari. Di mana aku baru bangun tidur, dengan
tampang jelekku, rambutku yang keriting warisan ayahku terlihat seperti sarang
burung, dan mukaku yang lusuh terlihat sangat mengerikan dimataku. Berbeda sekali
dengan abang Rizal yang sudah mandi, segar dan wangi. Saat mata kami beradu,
dia hanya tersenyum simpul, dan aku yang saat itu masih polos hanya bisa balas
tersenyum. Tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut kami.
Dua minggu berlalu, aku dan
keluargaku pun pulang ke Bogor. Abang
dan Dani, adiknya mengantar ke depan rumah. Saat itulah terakhir kali aku
melihatnya. Pemuda manis yang sudah mengisi hatiku, gadis kecil yang baru
pertama merasakan perasaan asing ini, berdiri canggung di depan rumahnya,
menatap kepergian kami.
Sejak kejadian itu, aku selalu
mengharapkan dia sebagai jodohku kelak. Setiap malam aku selalu berdoa kepada
Tuhan agar Ia memberikannya sebagai jodohku, seseorang yang akan mendampingiku
kelas sampai aku menua dan menghabiskan hidup bersama. Kacau memang, mengingat
pikiran itu sudah mampir dikepalaku yang saat itu masih sangat belia.
Maret 2006
“Hallo, Desi ini ya? Ini namboru,
kau ini nomermu ganti-ganti terus. Susah namboru ini menghubungi. Sudah itu,
nomor apa pula ini yang kau pakai? Kenapa bukan Simpati,”kata namboru panjang
lebar. Memang aku menggunakan provider IM3, maklumlah anak muda.
“Iya bou, aku pakai IM3 ini, bou apa
kabar?”tanyaku sekedar berbasa-basi. Kami pun mengobrol panjang lebar, sampai
akhirnya ucapan namboruku menarik perhatianku.
“Nomermu ini sama seperti yang
dipakai si Rizal,”katanya seperti menjatuhkan bom dikepalaku. Langsung saja
tanpa basa-basi aku menanyakan nomernya. Setelah dapat, aku tidak langsung
menghubunginya. Aku terlebih dulu menyiapkan mental dan mengumpulkan keberanian
untuk menghubunginya. Terdengar klise memang, namun kenyataannya aku memang
malu sekali menghubunginya. Akhirnya aku menghubunginya. Setelahnya aku
bukannya bahagia, namun malah semakin terpuruk.
Aku mengetahui kalau ternyata abangku sudah memiliki
pacar, yaitu teman sekampusnya. Memang saat itu abang sudah kuliah di Semarang.
Aku melihat profil pacarnya melalui akun Friendster-nya. Dan sungguh, hatiku
sangat sakit melihat perempuan itu. Bukan karena apa-apa, tapi karena dia
begitu cantik dimataku kala itu. Aku semakin merasa jatuh saat melihat obrolan
dan panggilan mesra mereka satu sama lain. Saat itu aku berhenti mendoakan
abang, aku berhenti meminta kepada Tuhan menjadikannya jodohku.
Juli 2014
Hari ini aku libur kuliah. Aku menghabiskan
waktu dengan bersantai di rumah sambil membaca novel online di smartphone-ku.
Handphone-ku bergetar, aku melihat ada undangan pertemanan BBM (Blackberry
Massanger) masuk. Aku membukanya dan sangat terperanjat. Merasa tidak percaya,
aku hanya diam sekian detik sambil terus memperhatikan layar handphone-ku.
Bayangkan, tiada angin tiada hujan, abang Rizal mengundangku berteman di BBM.
Mungkin dia mendapatkannya dari namboruku (ibunya). Sejak saat itu, kami terus
berkomunikasi melalui BBM. Aku selalu menanti-nanti kapan waktunya dia
mengajakku mengobrol terlebih dahulu. Karena jujur saja, aku terkadang malu
untuk memulai obrolan.
Untuk menarik perhatiannya, tidak
jarang juga aku membuat status-status yang lucu, bahkan galau agar dia
penasaran dan akhirnya mengajakku ngobrol. Aku terus berusaha membuat dia
nyaman mengobrol denganku. Sampai akhirnya, dia meneleponku. Itulah yang membuat
kami semakin dekat dan perasaanku semakin dalam. Ya,,,perasaanku berkembang
dari yang mulanya cinta monyet menjadi cinta yang dewasa. Aku yakin ini yang
namanya cinta. Dan aku juga merasa dia memiliki perasaan yang sama denganku.
Namun, aku harus bersabar karena aku tahu bahwa dia adalah orang yang pendiam
dan sulit untuk mengutarakan perasaannya. Terlebih lagi kami adalah pariban, masih
bersaudara. Aku menunggu dengan sabar, sampai akhirnya abang mengungkapkan
perasaanya yang sebenarnya.
“Anika tahu tidak, sebenarnya abang
itu suka sama kamu, tapi abang pikir Anika gak akan mau sama abang karena
perbedaan usia kita yang cukup jauh,”ucapnya membuat bibirku kelu.
“Sama, aku juga sejak kecil suka
sekali dengan abang, hanya aku malu untuk bilang,”balasku malu-malu.
“Masa?abang juga sudah suka sama
Anika sejak kita pertama kali ketemu dulu, makanya abang malu, apalagi mama
sejak kecil sudah menjodoh-jodohkan abang dengan Anika. Sudah, kamu sama Anika saja Rizal, baik itu anaknya. Begitu terus
ucap mama sama abang, dari abang kecil sampai sekarang,”panjang lebar abang
menjelaskan kepadaku.
“Jadi, Anika mau jadi calon istri
abangkah?”ungkapnya membuatku hampir pingsan. Bayangkan saja, belum juga aku
dinyatakan sebagai kekasih, ini langsung dinyatakan sebagai calon istri. Saat
itu aku maklum saja, mungkin itu karena usia abang yang sudah matang juga,
makanya pemikirannya tidak jauh-jauh dari menikah. Aku yang saat itu sangat
bahagia hanya bisa berkata “Iya, abang. Aku mau,”.
Sejak saat itu hari-hariku menjadi semakin berwarna.
Aku mensyukuri anugerah Tuhan kepadaku. Mungkin ini adalah jawaban dari
doa-doaku yang selama masa kecilku dulu, tidak pernah absen kupanjatkan. Aku
tidak pernah merasa menyesal karena dulu tidak langsun jadi dengan abang, aku
bersyukur atas rancangan Tuhan yang indah.
Aku pun menyadari, ini adalah waktu
yang stepat untuk aku dan abang bisa bersatu, mengingat perbedaan umur kami
yang cukup jauh. Coba bayangkan, kalau dulu aku memaksa untuk jadi dengan
abang, akan seperti apakah jadinya? Apakah abang akan bisa bertahan denganku
yang kala itu masih kanak-kanak? Apa yang akan kami perbincangkan di setiap
obrolan kami? Aku menyadari duniaku dan dunianya sangat berdeda kala itu. Tidak
mungkinkan abang yang saat itu sudah kuliah memiliki pacar anak SMP seopertiku
yang hobiku kala itu menonton serial kartun, ataupun telenovela? Jadi aku
sungguh bersyukur dengan hubungan dan keadaan kami yang sekarang. Tugasku
sekarang adalah menjaga hubungan kami. Walaupun kami terpaut jarak dan usia
yang berbeda jauh. Abang sekarang bekerja di Kalimantan, sedangkan aku di
Bogor. Semoga apa pun rintangan yang kami temui dibelakang nantinya, tidak akan
dapat merusak kuatnya fondasi hubungan kami.
Langganan:
Postingan (Atom)




























