Rabu, 17 Desember 2014

PHOTO ESSAY DAN PHOTO STORY

MENGUAK PERBEDAAN ANTARA PHOTO ESSAY DAN PHOTO STORY

Banyak orang bisa menulis, tapi sedikit yang bisa mengarang, banyak orang yang bisa motret, tapi jarang yang bisa membuat foto yang bercerita. Fotografi adalah salah satu media untuk bercerita yang sangat baik. Seringkali, fotografi yang baik dapat menggugah perasaan dibandingkan dengan tulisan semata. Mampu membuat foto yang bercerita merupakan suatu hal yang baik untuk mendapatkan pekerjaan di bidang fotografi terutama fotojurnalisme.
Dalam mengunakan fotografi untuk bercerita, biasanya fotografer mengunakan beberapa foto. Karena jarang satu foto dapat menceritakan satu kisah secara keseluruhan. Setelah foto terpilih, kita dapat menyusun sedemikian rupa sehingga pemirsa dapat melihat inti dan detail dari cerita secara lengkap.
Untuk membuat rangkaian foto bercerita (photo story) yang bagus, kita tidak hanya membutuhkan pengetahuan bagaimana membuat foto yg baik, tapi juga ketrampilan untuk bercerita. Kita membutuhkan ide/topik, membuat perencanaan. Selain itu kita membutuhkan kerjasama antara otak, mata dan hati. Dengan kerjasama antara ketiganya dengan baik, kita bisa mengetahui kapan saat dan dimana saat yang tepat untuk membuat foto.
Seringkali, rangkaian foto tersebut tidak hanya dibuat dalam satu hari saja, tapi berhari-hari di tempat yang berbeda-beda. Jika yang diceritakan melibatkan orang, maka hubungan antara fotografer dengan subjek foto juga harus baik. Sikap yang tidak baik atau kata-kata yang salah bisa menghambat kita untuk mendapatkan foto yang bagus.
Meskipun terdiri dari beberapa foto, tapi rangkaian photo story memiliki benang merah yang mengkaitkan antara satu foto dengan yang lainnya. Mengkaitkan foto bisa melalui subjek foto yang sama, gaya foto atau warna, komposisi, tempat dan topik yang sama.
Ada dua istilah yang sering membingungkan yaitu istilah photo essay dan photo story
Perbedaan singkatnya adalah:
  • Photo Essay – menceritakan sebuah kisah, dan biasanya bertujuan sesuatu misalnya mengingatkan pemirsa akan bahaya narkoba, menceritakan pentingnya pelestarian lingkungan dan lain-lain. Foto-foto bisa dibuat di tempat dan dengan subjek foto yang berbeda-beda tapi masih satu topik yang sama.
  • Photo story – Bercerita tentang seseorang, tempat atau situasi, ada bagian awal, tengah dan akhirnya. Misalnya cerita tentang kehidupan seorang petani, dokter, dll.

Meskipun foto yang dibuat sebenarnya bebas-bebas saja, tapi untuk pemula atau fotografer yang menyukai struktur, ada beberapa jenis foto yang biasanya ada dalam rangkaian photo story/essay:
  • Establishing shot : Biasanya menggambarkan tempat/setting tempat kejadian, biasanya mengunakan lensa wide angle untuk memberikan kesan tiga dimensi, tapi terkadang, lensa tele juga digunakan.
  • Detail shot : Foto detail benda atau bagian dari orang yang penting, misalnya cincin kawin atau close-up air mata / bibir seseorang, biasanya lensa makro atau telefoto digunakan.
  • Interaction shot : Berisi interaksi dari dua orang atau lebih
  • Climax : Sebuah foto yang menggambarkan puncak dari sebuah acara
  • Closer/Clincher : Foto yang menutup cerita. Biasanya meninggalkan kesan, pesan, inspirasi atau motivasi


Lima langkah membuat photo story/essay:

  1. Tentukan topik misalnya cerita kegiatan seseorang selama sehari, atau esai tentang lingkungan hidup yang tercemar
  2. Riset – Cari informasi tentang topik yang dipilih
  3. Rencanakan foto-foto yang akan diambil (pemandangan, karakter/portrait, seni budaya, dll)
  4. Membuat foto di lokasi dan waktu yang telah direncanakan. Biasanya langkah ini yang paling banyak memakan waktu
  5. Editing dan pemilihan foto
  6. Tata letak/layout foto yang dipilih. Semakin penting fotonya semakin besar ukurannya relatif dengan foto yang lain


sumber : infofotografi.com/blog

Fotografi Jurnalistik

MACAM-MACAM FOTO JURNALISTIK


1. Spot News. Foto insidential yang terjadi tanpa perencanaan sebelumnya, Contoh: foto bencana, kerusuhuan, tabrakan kereta api, dan lainnya.

2. General news. Foto yang telah terjadwal sebelumnya. Contoh, Piala dunia, konser, Olimpiade, pemilu Presiden, dan lainnya.

3. People in the News. Foto tentang manusia dalam sebuah berita. Kecenderungan yang disajikan lebih bersifat profil seseorang. Bisa karena kelucuannya, ketokohannya, atau justru salah satu dari korban aksi teror, korban bencana, dan lainnya.

4. Daily life. Foto tentang berbagai aktifitas manusia yang mampu menggugah perasaan dalam kesehariannya atau memiliki sifat human interest. Misal, seorang nenek yang sedang menggendong beban berat di pundaknya berisi berbagai jenis makanan yang dia jajakan di jalan, dll.

5. Sosial and Environment. Foto yang menggambarkan tentang kehidupan sosial masyarakat dengan lingkungannya.
6. Art and Entertainment. Foto tentang seni dan budaya. Seperti, pertunjukkan wayang, sendra tari, tetare, pemeran lukisan, konser musik, dll.

7. Science and Technology. Foto tentang perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan. Misalnya penemuan situs purbakala, terciptanya robot yang super canggih, pemotretan organ tubuh, proses operasi seorang pasien, dll.

8. Portrait. Foto yang menggambarkan sosok wajah seseorang baik secara clouse up maupun medium shot. Foto ditampilkan karena kekhasan pada wajah yang dimilikinya.

9. Sport. Foto-foto peristiwa olahraga dari seluruh cabang olehraga apa saja. Baik dalam kompetisi nasional hingga internasional.



FOTO JURNALISTIK


1. FOTO ART & ENTERTAINMENT
Salah satu relief peninggalan bangsa Tionghoa yang terdapat di Klenteng Hok Tek Bio, Bogor. (28 April 2014)



2. FOTO GENERAL
Para calon presiden yang diusung partai demokrat bergantian memberikan statement dalam konvensi partai demokrat di Hotel Sahid, Jakarta Pusat (28 April 2014)



3. FOTO PEOPLE IN NEWS
Menteri BUMN Dahlan Iskan turut hadir memeriahkan senam dan pasar rakyat dalam HUT Pegadaian yang ke-113. (28 April 2014)



4. FOTO CONTEMPORER ISSUE
Sederet politikus yang dikabarkan akan diusung partai demokrat menjadi calon presiden (28 April 2014)



5. FOTO SPORT FEATURE
Kelincahan instruktur senam dalam memimpin senan saat HUT Pegadaian. (28 April 2014)



6. FOTO SPOT
Suasanya pasar senen pasca kebakaran.( 25 April 2014)



7. FOTO SPORT
 Antusiasme karyawan PT. Pegadaian dalam memeriahkan HUT pegadaian yang ke-113, Jakarta Timur. (28April 2014)

SUMBER: DOKUMEN DAN DATA PRIBADI

PHOTO STORY



“KEGIATAN DI PAGI HARI CAFE SOP DUREN LODAYA CABANG SUKASARI DAN PROSES PADA SAAT PENJUALAN “

Oleh : Desi Veronika


1. Pada pukul 08.00 pagi sebelum dibukanya outlet, karyawan Sop Duren Lodaya membersihkan outlet terlebih dahulu. (Bogor, 04/06/2014)


2. Setelah outlet bersih, Sop Duren Lodaya cabang Sukasari buku pukul 09.00 pagi (Bogor, 04/06/2014)

3. Tak berapa lama kemudian, datang karyawan pusat yang mengantarkan bahan-bahan produksi dari Gudang Sop Durian Lodaya, yang bertempat di Jalan Palayu Raya no. 10, Bantarjati. (Bogor, 04/06/2014)

4. Customer yang hendak masuk ke dalam outlet Sop Durian Lodaya pada pukul 19.00 WIB (Bogor, 04/6/2014)

5. Customer yang menuju tempat duduk dan hendak duduk di dalam outlet. (Bogor, 04/06/2014)

6. Waiter menghampiri customer, memberikan buku menu sehingga customer dapat memilih menu yang tersedia. (Bogor, 04/06/2014)

7. Setelah mengetahui menu yang diinginkan customer, waiter menginput pesanan melalui mesin yang akan terhubung ke bagian dapur. (Bogor, 04/06/2014)

8. Karyawan pembuat Sop Durian (atau yang disebut joki) sedang membuat pesanan di dapur. (Bogor, 04/06/2014)

9. Pesanan sudah jadi dan siap untuk diantarkan ke customer. (Bogor, 04/06/2014)

10. Setelah pesanan siap, waiter mengantarkan pesanan kepada customer yang telah memesan. (Bogor, 04/06/2014)

11. Setelah pesanan sampai, customer mulai menikmati hidangan Sop Durian Lodaya sesuai dengan menu yang telah dipesan. (Bogor, 04/06/2014)

12. Setelah menikmati hidangan, customer menuju kasir untuk membayar tagihan makanan yang telah dipesan. (Bogor, 04/06/2014)

13. Setelah menikati hidangan dan membayar tagihan, customer meninggalkan outlet Sop Durian Lodaya (Bogor, 04/06/2014)





FEATURE


PESONA UNIK KAWASAN GOA GUDAWANG
oleh : Desi Veronika


Stalaktit atau stalagmit merupakan bebatuan unik dengan bentuk mengkerucut  yang umumnya dapat ditemukan menggantung pada langit-langit goa atau di sekitar dinding-dinding goa. Menyaksikan pesona indah dan mengagumkan dari berbagai bebatuan, yang terbentuk secara alami dari tetesan air hujan sejak ratusan tahun lalu, merupakan sebuah kegiatan yang langka sekali.  Hal ini dikarenakan tidak semua goa yang dapat kita kunjungi memiliki bebatuan unik tersebut. Nah, bagi Anda yang memilih untuk berwisata dan mengunjungi pusat-pusat rekreasi yang tersaji di Kota Bogor, terdapat sebuah obyek wisata yang menarik dan sayang untuk dilewatkan. Dengan pesona alam yang masih begitu alami, ditambah keindahan dari bebatuan stalagtit dan stalagmit, serta keindahan goa-goa di sekitar kawasan. Salah satu obyek wisata yang tersembunyi dibalik sejuknya suasana alam di Kota Bogor tersebut, yakni Kawasan Goa Gudawang.
Lokasi Kawasan Goa Gudawang sendiri terletak di Desa Argapura, Kecamatan Gigudeg, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Selain itu, lokasinya berjarak kurang lebih 44 km dari Kota Bogor, dapat ditempuh dengan waktu sekitar dua jam apabila menggunakan kendaraan roda empat, namun apabila menggunakan motor perjalanan bisa ditempuh dengan waktu sekitar 1 jam saja. Akses menuju Kawasan Goa Gudawang juga dapat ditempuh dari arah Kota Tanggerang, yakni kurang lebih 60 km. Apabila kita menuju kesana dari arah Kota Bogor, kita akan melewati perkebunan kelapa sawit yang banyak terdapat disepanjang jalan menuju Goa Gudawang. Sawah dan kebun juga akan sering kita temukan karena daerah menuju Goa terbilang masih asri.
Keunikan dari Kawasan Goa Gudawang  yakni terdapat sekitar 12 goa dengan ukuran dan kedalaman yang berbeda-beda, dan tersebar di sekitar areal kawasan goa dengan luas kurang lebih 25 hektar. Sampai saat ini belum diketahui pasti bagaimana sejarah penemuan goa-goa tersebut. Menurut penuturan penjaga goa, nama Goa Gudawang sendiri diambil dari bahasa penduduk setempat yang berarti “ekor kuda yang dikepang”. Masih belum jelas apa hubungan arti nama tersebut dengan keadaan alam Goa Gudawang sendiri, ataupun dengan goa-goa yang ada di sekitar kawasan tersebut.
Biaya masuk Kawasan Goa Gudawang sendiri cukup murah, cukup merogoh kocek Rp 7.000,00 saja. Setelah membayar tiket, kita bisa langsung masuk tanpa harus menunggu lama. Disana, sudah ada beberapa orang guide yang menunggu apabila kita membutuhkan jasanya. Sampai di depan pintu utama Kawasan Goa, kita bisa melihat peta yang menunjukkan letak dari goa-goa yang ada di dalam Kawasan Goa. Nah, Kawasan Goa Gudawang sendiri memiliki 3 goa yang telah dikembangkan sebagai obyek wisata. Goa-goa tersebut yakni Goa Sipahang, Goa Simenteng dan Goa Simasigit.
Goa pertama adalah Goa Sipahang, yakni goa terpanjang yang ada disini. Berjalan serta menyusuri dalamnya Goa Sipahang akan menjadi kegiatan yang sangat berkesan. Hal ini dikarenakan panjang Goa Gudawang sendiri yang mencapai sekitar 750 meter. Tidak itu saja, medan yang akan dilewati pun tidak mudah. Keadaan di dalam Goa Sipahang sangat gelap, belum ada penerangan di dalamnya. Jadi kita harus menggunakan lampu emergency atau paling tidak senter. Jalanannya pun licin, dan tergenang air sampai setengah betis orang dewasa. Airnya berasal dari mata air bukit yang ada di belakang goa, jadi sebaiknya saat masuk ke dalam Goa Sipahang kita tidak perlu menggunakan alas kaki karena akan basah, atau lebih disarankan kita agar memakai sepatu boot. Kita dapat menggunakan jasa guide untuk masuk ke dalam Goa sipahang, karena keadaan goa yang licin dan bisa menyebabkan kita celaka apabila tidak berhati-hati. Sebelum memasuki areal goa kita akan diberi helm pengaman oleh guide agar kepala kita aman, ini dikarenakan Goa Sipahang memiliki batu yang menjulang ke bawah, sehingga untuk melewatinya kita harus menunduk bahkan terkadang kita sampai harus merangkak. Selain itu, di dalam goa kita juga bisa menemukan banyak sekali pesona yang tersembunyi. Mulai dari lorong-lorong goa dengan bentuk yang unik, Chamber atau sebuah ruangan yang luas di dalam perut goa, Gourdam atau kolam kecil yang terbentuk secara alami, serta bebatuan stalagtit dan stalagmit yang menggantung cantik di langit-langit ataupun dinding-dinding goa. Tidak hanya itu, adapula ikan-ikan dari yang seukuran tangan orang dewasa sampai ikan-ikan kecil yang hidup disana. Saya juga sempat menemukan kepiting disana, tapi kita harus jeli karena ikan-ikan dan kepiting tersebut tertutup lumpur. Ada juga jangkrik goa yang ukurannya sebesar kecoa, berbeda sekali dengan jangkrik biasa yang sering kita temui. Di langit-langit goa sendiri kita bisa menemukan sekumpulan kelelawar yang sedang tidur. Ya, di Goa Sipahang ini jumlah kelelawarnya sangat banyak, sehingga kita samar-samar bisa mencium bau kotoran kelelawar. Oleh karena itu, goa ini diberi nama Sipahang, diambil dari “Pahang” yang berarti bau. Goa Sipahang sendiri walaupun panjang tapi tidak dapat dimasuki sampai ujung goa, karena bagian menjelang ujung goa medannya sulit. Semakin menuju ujung, air yang menggenangi goa semakin tinggi, apalagi kalau sudah hujan kita malah tidak diperkenankan untuk masuk ke dalam goa. Saat hujan, air yang menggenang akan meninggi dan tidak menutup kemungkinan akan datang banjir atau air bah. Menurut guide yang menemani saya, pada tahun 2004 ada dua orang wisatawan yang meninggal akibat terbawa arus di dalam Goa Sipahang.
Goa kedua adalah Goa Simasigit. Goa ini luasnya tidak sepanjang Goa Sipahang. Goa Simasigit memiliki panjang kurang lebih 250 meter. Pintu masuk Goa Simasigit berbeda dengan Goa Sipahang yang masih asri dan alami. Di Goa Simasigit, pintu masuknya sudah dibentuk menyerupai mulit harimau yang telah dibangun sejak tahun 1990. Mengagumkan bukan? Pemandangan tersebut juga mampu memberikan suasana mistis bagi wisatawan yang menyaksikannya.   Setelah masuk ke dalam goa, kita akan melihat  permukaan Goa Simasigit yang ditutupi tanah liat. Jalannya licin dan sedikit lengket jadi kita harus berhati-hati agat tidak terpeleset. Sama seperti Goa Sipahang, Goa Simasigit belum memiliki penerangan, namun keadaannya tidak terlalu gelap dan menakutkan karena badan goa yang tidak panjang. Di dalam Goa Simasigit juga terdapat stalagtit dan stalagmit. Dari ketiga goa yang terdapat di Kawasan Goa Gudawang, stalagtit terbesar ada di Goa Simasigit.
Goa ketiga adalah Goa Simasigit. Pintu masuk goa juga sudah dibentuk menyerupai mulut harimau. Ini adalah Goa terpendek dari semua goa yang ada disana. Panjangnya hanya 30 meter. Berbeda dengan kedua goa lainnya, Goa Simenteng sudah memiliki penerangan. Keadaan di dalam goa juga tidak jauh berbeda dengan goa yang lainnya, tetap mempesona dan terdapat juga stalagtit dan stalagmit yang menggantung cantik,  walaupun jumlahnya bterbatas. Di dalam goa ini juga ada tangga menurun yang cukup tinggi. Setelah kita sampai di anak tangga terbawah, kita bisa menemukan mata air yang bersih. Biasanya orang-orang yang kesana menggunakan air itu untuk mencuci kaki, begitupun saya ketika mengunjungi goa tersebut.
Di Kawasan Goa Gudawang ini pun memiliki fasilitas yang lumayan lengkap. Disana ada semacam pondok yang disediakan untuk beristirahat. Adapula mushala dan kamar mandi yang layak. Apabila kita lapar, kita bisa membeli makanan di saung yang ada disana dengan harga normal, karena Kawasan Goa Gudawang ini berada di kawasan perkampungan penduduk. Nah, bagaimana? Menarik bukan? Kawasan Goa Gudawang selain memiliki pesona yang unik, kita juga tidak perlu mengeluarkan biaya yang mahal untuk menikmati segala keindahannya.







ARTIKEL : Desi Veronika



03 Mei 2014
Tema   : Media cetak vs digital
MEDIA ONLINE BERJAMUR, KORAN MULAI DITINGGALKAN
 
Setiap orang pasti memiliki kebutuhan untuk mengetahui informasi. Informasi dapat diperoleh dengan membaca, baik dari media cetak maupun digital. Media cetak merupakan media penyebaran berita yang tercetak untuk dikonsumsi oleh masyarakat luas. Perkembangan media cetak dari masa ke masa berkembang dengan pesat mengikuti perkembangan teknologi komunikasi. Berawal dari penemuan mesin cetak oleh Guttenberg yang digunakan untuk membuat Kitab Injil Mazarin Bible. Dilanjutkan pada tahun 1833 saat Bunyamin Day meluncurkan surat kabar New York Sun secara besar-besaran. Sejak saat itu masyarakat dunia mulai mengenal media cetak dan mulai memanfaatkannya untuk memperoleh informasi. Saat ini kemajuan media cetak pun semakin maju. Tidak seperti dulu yang masih menampilkan warna hitam putih, sekarang media cetak sudah dikemas dengan lebih menarik. Sedangkan teknologi digital lebih menekankan pada teknologi yang semakin maju. Hal ini bermula semenjak kehadiran internet.  Pola kehidupan dan pemikiran masyarakat pun sedikit demi sedikit semakin berubah. Masyarakat terasa begitu dimanjakan oleh teknologi, terlebih saat munculnya gadget dan fakta bahwa penggunaan internet semakin dinikmati oleh kebanyakan orang. Kita bisa melihat bagaimana internet membawa pengaruh yang sangat besar bagi masyarakat kita, terlebih dengan maraknya warung internet (warnet) yang tersebar dimana-mana. Internet telah merobohkan tembok pembatas antar informasi yang selama ini hanya bisa kita dapat dari media cetak.
Media cetak sendiri memiliki banyak macamnya, ada koran, majalah, tabloid, jurnal, dan masih banyak lagi yang akan memakan waktu apabila dipaparkan. Macam-macam dari media cetak tersebut memiliki fungsi dan keunggulannya masing-masing, namun agar lebih mudah kita fokuskan saja pada koran. Setiap orang pasti pernah membaca koran, atau paling tidak pernah mendengarnya. Media cetak yang satu ini biasanya terbit setiap hari. Di dalamnya banyak terdapat informasi, mulai dari berita politik, kriminalitas, gosip, tips-tips, iklan produk dan lowongan pekerjaan, dan masih banyak lagi. Koran menjadi salah satu sumber informasi yang selalu dicari-cari, namun itu dahulu. Saat ini, koran memang masih cukup diminati, tetapi penggunanya semakin hari semakin menurun. Masyarakat sekarang ini lebih senang memperoleh informasi melalui internet. Cukup dengan browsing melalui perangkat komputer atau gadget, kita dapat mengetahui berbagai jenis informasi yang ada. Menurut survei Nielsen Media Research di sembilan kota di Indonesia dengan populasi 43,87 juta orang dengan umur 10 tahun ke atas, pada kuartal III 2012, konsumsi koran justru mencapai titik terendah dalam lima tahun terakhir (awal 2009 mencapai 28 %, tetapi terus menurun tinggal 18 % pada kuartal III 2012). Hal ini mengkhawatirkan para perusahaan media cetak. Koran semaki  hari semakin ditinggalkan. Memang, masih ada yang mau membeli koran. Namun coba kita perhatikan baik-baik. Apakah kita sebagai generasi muda masih suka membeli koran? Jawabannya rata-rata pastilah jarang. Generasi muda yang jumlahnya paling banyak di Indonesia rata-rata tidak suka membeli koran. Konsemen terbesar koran saat ini adalah para orangtua. Mereka membeli koran karena umumnya masih gagap atau belum mengenal teknologi. Selain itu, kebiasaan mereka yang suka membaca koran di pagi hari sebagai teman minum kopi pun turut menjadi faktor pendorongnya. Konsumen yang membeli koran diperkirakan adalah orang-orang yang sekedar iseng. Hal ini sesuai dengan yang diungkapkan salah seorang pedagang koran yang menyatakan bahwa koran akan semakin laku saat sore hari, setelah harganya diturunkan menjadi murah. Sedangkan generasi muda saat ini semakin mahir dan akrab dengan teknologi. Oleh karenanya mereka lebih memilih online daripada membaca koran. Kondisi ini membuat perusahaan media cetak melakukan perubahan. Untuk mengatasi keterpurukan dan memenangkan persaingan, perusahaan media cetak contohnya Kompas memilih untuk menyampaikan informasi melalui media online. Mereka tidak hanya menyampaikan informasi melalui media cetaknya, namun juga mereka menyampaikan melalui media online. Konsep yang seperti ini pun sudah banyak digunakan oleh koran Tempo yang saat ini juga memiliki surat kabar digital, ada lagi Republika, Seputar Indonesia (Sindo), dan lain-lain.  Itulah konsep dasar yang membuat media online tumbuh dan berkembang hingga detik ini, bahkan semakin eksis setiap waktu.
Masyarakat beralih ke media online karena memang lebih praktis. Dengan membaca melalui media online, kita tidak perlu repot-repot keluar rumah untuk membeli koran, cukup dengan membuka laptop ataupun gadget, kita bisa langsung memperoleh informasi. Selain itu, informasi yang terdapat di media online pun terbilang sangat update. Berbeda dengan media cetak yang informasinya kurang update, karena informasi yang ditampilkan dalam media cetak memerlukan waktu untuk proses pengeditan hingga proses percetakan. Biaya yang dikeluarkan pun lebih murah dibandingkan membeli koran. Sekarang ini sudah banyak paket internet unlimited yang sedang gencar-gencarnya ditawarkan oleh kebanyakan provider. Selain itu, sekarang ini banyak tempat-tempat makan, maupun hiburan yang sudah memiliki fasilitas wi-fi. Dengan begitu, kita semakin mudah dalam mengakses informasi. Kalau dahulu kita biasanya membaca koran saat pagi hari, kini dengan adanya internet kita bisa mengakses informasi dimana saja, dan kapan saja.
Walaupun media online saat ini sedang digemari dan memiliki banyak sekali keuntungan, koran masih dapat bertahan. Hal ini dikarenakan semakin mahalnya biaya iklan untuk dimuat di koran. Terlebih saat ini, produksi iklan semakin banyak. Dengan banyaknya iklan, biaya produksi yang tidak kembali menjadi tertutupi sehingga koran masih bisa bertahan. Kita tentu saja tidak ingin apabila koran benar-benar tidak diproduksi lagi. Kehadiran koran telah begitu melekat dalam kehidupan masyarakat kita, sehingga jika koran tidak lagi terbit, tentu akan menghilangkan tadisi budaya membaca koran secara utuh. Peran koran lokal (daerah) misalnya, memberikan kontribusi yang besar terhadap perkembangan daerah, dimana koran itu terbit. Masyarakat juga selalu membutuhkan informasi berita lokal dibandingkan berita nasional maupun internasional.

Kita hanya bisa berharap agar hadirnya berita melalui media online tidak akan memberi pengaruh yang besar bagi perkembangan media cetak kedepannya. Hadirnya kedua media tersebut diharapkan bisa saling melengkapi baik kekurangan maupun kelebihannya. Masyarakat juga akan selalu berharap agar berita yang disajikan baik dalam bentuk media cetak maupun media digital, dapat memberi pengaruh positif dan bermanfaat bagi pembacanya.















Cerpen

Semua Ada Waktunya
oleh : Desi Veronika

Juni 2003

Ketika itu adalah liburan kenaikan kelas. Aku naik kelas 6 SD. Suatu sore, namboru menelepon mama, mengabari kami bahwa opungku yang dari Medan akan datang ke Jawa, rumah namboruku. Beliau ingin melihat kami, anak dan cucunya, sehingga kami harus datang kesana. Aku sendiri ketika itu tidak terlalu mengingat wajah namboruku dan saudara-saudaraku yang tinggal di Jawa karena terakhir kali bertemu adalah ketika aku masih sangat kecil.
Perjalanan kami ke rumah namboru menggunakan bus antar provinsi. Berangkat dari terminal Bogor pukul satu siang. Kala itu, matahari tidak malu-malu mengeluarkan teriknya. Aku jujur saja kesal dan kurang bersemangat, sejak dulu aku memang suka mabuk apabila berpergian jauh. Maklum, aku termasuk anak rumahan yang jarang sekali berpergian jauh. Untungnya bus yang kami tumpangi ada AC-nya sehingga aku tidak terlalu pengap. Aku menghabiskan waktu di perjalanan dengan tidur. Seharusnya, kami sampai di rumah nanguda pukul sebelas malam, atau paling lambat pukul satu subuh seharusnya kami sudah sampai. Namun, bus kami kena macet parah. Kami sampai di rumah namboru pukul lima subuh. Saat itu entah sudah berapa kantung plastik yang habis untuk menampung muntahku. Setelah sampai di depan rumah namboruku, yang untungnya berada tepat di pinggir jalan besar, aku merasa sangat lega. Tidak sabar rasanya aku untuk berbaring diranjang yang empuk dan hangat.
Kami mengetuk pintu rumah namboru. Begitu pintu rumah dibuka, muncullah seorang wanita paruh baya yang kutaksir berusia akhir 30-an. Rambutnya yang keriting dan dagunya yang runcing mengingatkan aku akan sosok bapakku. Ah..pastilah ini namboru, pikirku kala itu.
“Loh, kalian kok baru sampai. Kupikir kalian tidak jadi datang. Ayo masuk,”sambutnya dengan hangat. Setelahnya namboru masih sibuk berceloteh riang sambil membimbing kami masuk ke rumah. Aku yang memang tidak ingat akan Beliau, sekarang jadi sedikit mengerti bahwa namboruku yang satu ini terbilang cerewet.
Di dalam rumah ternyata sudah berkumpul sanak keluarga kami yang lain. Ada amangboruku, juga ada sepupu-sepupuku. Sekilas kuperhatikan ada yang sedang tidur di atas kasur yang digelar di depan TV, ada yang masih minum susu, makan dan lain-lain. Aku tidak begitu memperhatikan mereka. Karena selain tidak kenal, badanku sedang kurang fit. Ketika itu, sepupu laki-lakiku terbangun dari tidurnya yang kala itu tidur membelakangiku. Ia berbalik, melihat ke arah kami, lalu mengucek-ucek matanya.
Deg..deg…deg…jantungku tiba-tiba bergetar hebat ketika kutatap wajahnya. Rasanya, kantukku yang sedari tadi menyerang hebat kini bagai hilang terbawa angin. Kesadaranku pulih total. Inderaku menjadi sensitive. Banyak pertanyaan yang muncul di benakku mengenainya seperti siapakah dia, apakah dia anak namboruku, ataupun kenapa aku baru tahu kalau namboruku memiliki anak seusia dia yang kutaksir sudah duduk di bangku SMA. Hm…benar-benar wajah yang manis sekali. Laki-laki itu mengalihkan pikiranku, membuatku terbawa angan-anganku sendiri. Mungkin ini bisa disebut dengan cinta monyet pada pandangan pertama.
“Eh sudah bangun kau rupanya Rizal. Ini tulang sama nangtulang sudah datang. Salamlah dulu. Rupanya kena macet mereka di jalan makanya terlambat sampai,”oceh namboru membuyarkan lamunanku.
Ah.. jadi namanya abang Rizal. Nama itu terus saja bergema dipikiranku. Dia pun bangkit dan menghampiri kami. Menyalami bapak, mama, aku dan adik-adikku. Saat tangan kami bersentuhan, aku rasanya malu sekali. Ingin aku ditelan bumi saja. Sebelumnya aku yang tidak pernah memperhatikan penampilan, kini aku khawatir kalau-kalau penampilanku terlihat kucel dan kusam. Aku ingin terlihat cantik dimatanya. Ah..mungkin aku yang terlalu cepat puber.
Aku menghabiskan masa liburan sekolahku selama dua minggu di rumah namboru. Hari-hari yang kulalui di sana kuhabiskan dengan perasaan yang campur aduk. Perasaan  antara malu setiap kali berpapasan dengannya, perasaan sedih karena ternyata dia orangnya sangat pendiam dan tidak pernah sekalipun mengajakku ngobrol, perasaan rendah diriku karena merasa aku tidak sebanding dengan dirinya yang sudah remaja sedangkan aku masih kecil, dan juga perasaan kagum akan sosoknya yang rajin.
 Omong-omong soal rajin, abangku yang satu ini memang rajin sekali. Waktu itu aku ke dapur melewati kamar mandi, di mana saat itu abang sedang mandi. Aku mendengar suara orang sedang menyikat baju. Keesokan harinya pada saat dia sedang mandi, aku lewat lagi di depan kamar mandi, sama seperti hari sebelumnya, terdengar lagi olehku dia yang sedang menyikat baju. Padahal jika dipikir-pikir lagi, buat apa dia mencuci bajunya, toh di rumah namboru sudah ada tukang cuci yang datang setiap paginya untuk mencuci. Tidak sampai di situ saja, abang juga termasuk orang yang selalu bangun pagi.
Dan setelah bangun dia pasti menyapu halaman rumahnya yang cukup lebar itu. Setiap kali aku bangun, dia pasti sudah hampir selesai menyapu halaman. Itu membuatku semakin merasa tidak pantas untuknya. Apalagi mengingat kebiasaanku yang tidak suka bangun pagi.
Intinya, selama berada di rumah namboru aku merasakan yang namanya surga dan neraka. Surga yaitu ketika aku dapat melihat senyum manisnya secara sembunyi-sembunyi tanpa dia tahu aku perhatikan, ketika aku mendengar suaranya secara diam-diam dan dan merasa terhibur karenanya.
Lalu merasa di neraka ketika kami pertama kali berpapasan di pagi hari. Di mana aku baru bangun tidur, dengan tampang jelekku, rambutku yang keriting warisan ayahku terlihat seperti sarang burung, dan mukaku yang lusuh terlihat sangat mengerikan dimataku. Berbeda sekali dengan abang Rizal yang sudah mandi, segar dan wangi. Saat mata kami beradu, dia hanya tersenyum simpul, dan aku yang saat itu masih polos hanya bisa balas tersenyum. Tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut kami.
Dua minggu berlalu, aku dan keluargaku pun pulang ke Bogor.  Abang dan Dani, adiknya mengantar ke depan rumah. Saat itulah terakhir kali aku melihatnya. Pemuda manis yang sudah mengisi hatiku, gadis kecil yang baru pertama merasakan perasaan asing ini, berdiri canggung di depan rumahnya, menatap kepergian kami.
Sejak kejadian itu, aku selalu mengharapkan dia sebagai jodohku kelak. Setiap malam aku selalu berdoa kepada Tuhan agar Ia memberikannya sebagai jodohku, seseorang yang akan mendampingiku kelas sampai aku menua dan menghabiskan hidup bersama. Kacau memang, mengingat pikiran itu sudah mampir dikepalaku yang saat itu masih sangat belia.

Maret 2006
“Hallo, Desi ini ya? Ini namboru, kau ini nomermu ganti-ganti terus. Susah namboru ini menghubungi. Sudah itu, nomor apa pula ini yang kau pakai? Kenapa bukan Simpati,”kata namboru panjang lebar. Memang aku menggunakan provider IM3, maklumlah anak muda.
“Iya bou, aku pakai IM3 ini, bou apa kabar?”tanyaku sekedar berbasa-basi. Kami pun mengobrol panjang lebar, sampai akhirnya ucapan namboruku menarik perhatianku.
“Nomermu ini sama seperti yang dipakai si Rizal,”katanya seperti menjatuhkan bom dikepalaku. Langsung saja tanpa basa-basi aku menanyakan nomernya. Setelah dapat, aku tidak langsung menghubunginya. Aku terlebih dulu menyiapkan mental dan mengumpulkan keberanian untuk menghubunginya. Terdengar klise memang, namun kenyataannya aku memang malu sekali menghubunginya. Akhirnya aku menghubunginya. Setelahnya aku bukannya bahagia, namun malah semakin terpuruk.
 Aku mengetahui kalau ternyata abangku sudah memiliki pacar, yaitu teman sekampusnya. Memang saat itu abang sudah kuliah di Semarang. Aku melihat profil pacarnya melalui akun Friendster-nya. Dan sungguh, hatiku sangat sakit melihat perempuan itu. Bukan karena apa-apa, tapi karena dia begitu cantik dimataku kala itu. Aku semakin merasa jatuh saat melihat obrolan dan panggilan mesra mereka satu sama lain. Saat itu aku berhenti mendoakan abang, aku berhenti meminta kepada Tuhan menjadikannya jodohku.

Juli 2014
Hari ini aku libur kuliah. Aku menghabiskan waktu dengan bersantai di rumah sambil membaca novel online di smartphone-ku. Handphone-ku bergetar, aku melihat ada undangan pertemanan BBM (Blackberry Massanger) masuk. Aku membukanya dan sangat terperanjat. Merasa tidak percaya, aku hanya diam sekian detik sambil terus memperhatikan layar handphone-ku. Bayangkan, tiada angin tiada hujan, abang Rizal mengundangku berteman di BBM. Mungkin dia mendapatkannya dari namboruku (ibunya). Sejak saat itu, kami terus berkomunikasi melalui BBM. Aku selalu menanti-nanti kapan waktunya dia mengajakku mengobrol terlebih dahulu. Karena jujur saja, aku terkadang malu untuk memulai obrolan.
Untuk menarik perhatiannya, tidak jarang juga aku membuat status-status yang lucu, bahkan galau agar dia penasaran dan akhirnya mengajakku ngobrol. Aku terus berusaha membuat dia nyaman mengobrol denganku. Sampai akhirnya, dia meneleponku. Itulah yang membuat kami semakin dekat dan perasaanku semakin dalam. Ya,,,perasaanku berkembang dari yang mulanya cinta monyet menjadi cinta yang dewasa. Aku yakin ini yang namanya cinta. Dan aku juga merasa dia memiliki perasaan yang sama denganku. Namun, aku harus bersabar karena aku tahu bahwa dia adalah orang yang pendiam dan sulit untuk mengutarakan perasaannya. Terlebih lagi kami adalah pariban, masih bersaudara. Aku menunggu dengan sabar, sampai akhirnya abang mengungkapkan perasaanya yang sebenarnya.
“Anika tahu tidak, sebenarnya abang itu suka sama kamu, tapi abang pikir Anika gak akan mau sama abang karena perbedaan usia kita yang cukup jauh,”ucapnya membuat bibirku kelu.
“Sama, aku juga sejak kecil suka sekali dengan abang, hanya aku malu untuk bilang,”balasku malu-malu.
“Masa?abang juga sudah suka sama Anika sejak kita pertama kali ketemu dulu, makanya abang malu, apalagi mama sejak kecil sudah menjodoh-jodohkan abang dengan Anika. Sudah, kamu sama Anika saja Rizal, baik itu anaknya. Begitu terus ucap mama sama abang, dari abang kecil sampai sekarang,”panjang lebar abang menjelaskan kepadaku.
“Jadi, Anika mau jadi calon istri abangkah?”ungkapnya membuatku hampir pingsan. Bayangkan saja, belum juga aku dinyatakan sebagai kekasih, ini langsung dinyatakan sebagai calon istri. Saat itu aku maklum saja, mungkin itu karena usia abang yang sudah matang juga, makanya pemikirannya tidak jauh-jauh dari menikah. Aku yang saat itu sangat bahagia hanya bisa berkata “Iya, abang. Aku mau,”.
Sejak saat itu hari-hariku menjadi semakin berwarna. Aku mensyukuri anugerah Tuhan kepadaku. Mungkin ini adalah jawaban dari doa-doaku yang selama masa kecilku dulu, tidak pernah absen kupanjatkan. Aku tidak pernah merasa menyesal karena dulu tidak langsun jadi dengan abang, aku bersyukur atas rancangan Tuhan yang indah.
Aku pun menyadari, ini adalah waktu yang stepat untuk aku dan abang bisa bersatu, mengingat perbedaan umur kami yang cukup jauh. Coba bayangkan, kalau dulu aku memaksa untuk jadi dengan abang, akan seperti apakah jadinya? Apakah abang akan bisa bertahan denganku yang kala itu masih kanak-kanak? Apa yang akan kami perbincangkan di setiap obrolan kami? Aku menyadari duniaku dan dunianya sangat berdeda kala itu. Tidak mungkinkan abang yang saat itu sudah kuliah memiliki pacar anak SMP seopertiku yang hobiku kala itu menonton serial kartun, ataupun telenovela? Jadi aku sungguh bersyukur dengan hubungan dan keadaan kami yang sekarang. Tugasku sekarang adalah menjaga hubungan kami. Walaupun kami terpaut jarak dan usia yang berbeda jauh. Abang sekarang bekerja di Kalimantan, sedangkan aku di Bogor. Semoga apa pun rintangan yang kami temui dibelakang nantinya, tidak akan dapat merusak kuatnya fondasi hubungan kami.